Rabu, 20 November 2013

SHALAT SESUDAH ASHAR

HADIS-HADIS TENTANG
SHALAT SESUDAH ASHAR

Oleh
Dr.H.Achmad Zuhdi Dh,M.Fil I


A.Hadis-hadis yang melarang:
Hadis pertama:
عن أبي هريرة قال نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاتَيْنِ بَعْدَ اْلفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ اْلعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ
Dari Abu Hurairah ra ia berkata : “Rasulullah Saw melarang dua macam shalat: shalat ba’dashubuh hingga terbit matahari dan shalat ba’daashar hingga terbenamnya matahari”(HR. Al-Bukhari no. 563 dan Muslim no. 825).
Hadis kedua:
عن عمرو بن عبسة السلمي : ..... فَإِذَا أَقْبَلَ اْلفَيْءُ فَصَلِّ فَإِنَّ الصَّلاةَ مَشْهُوْدَة مَحْضُوْرَة حَتَّى تُصَلِّيَ اْلعَصْرَ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَإِنَّهَا تَغرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانِ وَحِيْنَئِذ يَسْجُدُ لَهَا اْلكُفَّارُ
Dari ‘Amr bin ‘Abasah ra, bahwasannya Rasulullah Saw telah bersabda: “…..Jika bayangan telah condong (waktu zawal), maka kerjakanlah shalat, karena shalat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri (oleh para malaikat), hingga engkau mengerjakan shalat ‘ashar. Setelah itu, janganlah engkau shalat hingga matahari terbenam, karena matahari terbenam di antara dua tanduk syaithan, dan pada saat itu, orang-orang kafir sujud padanya”(HR. Muslim no. 1967).

Keterangan:

Dua hadis tersebut menunjukkan bahwa shalat sesudah ashar hingga terbenamnya matahari itu dilarang, karena matahari terbenam di antara dua tanduk setan, dan pada saat itu, orang-orang kafir sujud padanya.
B.Hadis-hadis yang membolehkan shalat sesudah ashar:
Hadis ketiga:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ صَلَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ وَقَالَ شَغَلَنِيْ نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ
Dari Ummu Salamah ra ia berkata : “Nabi Saw pernah shalat dua raka’at setelah ‘ashar, lalu beliau bersabda: Orang-orang dari suku ‘Abdul-Qais telah menyibukkanku dari shalat dua raka’at setelah dhuhur”(HR. Al-Bukhari)[1]
Hadis keempat:
عن أم سلمة قالت شُغِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلعَصْرِ فَصَلاهُمَا بَعْدَ اْلعَصْرِ
Dari Ummu Salamah ra ia berkata : “Rasulullah Saw dibuat sibuk atas satu urusan sehingga tidak sempat mengerjakan shalat dua raka’at sebelum ‘ashar. Maka beliau mengerjakannya setelah ‘ashar” (HR. An-Nasa’i)[2].
Hadis kelima:
عن عائشة قالت وَالَّذِيْ ذَهَبَ بِهِ مَا تَرَكَهُمَا حَتَّى لَقِيَ اللهَ وَمَا لَقِيَ اللهَ تَعَالَى حَتَّى ثَقُلَ عَنِ الصَّلاةِ وَكَانَ يُصَلِّيَ كَثِيْرًا مِنْ صَلاتِهِ قَاعِدًا تَعْنِيْ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيْهِمَا وَلا يُصَلِّيْهِمَا فِيْ اْلمَسْجِدِ مُخَافَةَ أَنْ يُثَقِّلَ عَلَى أُمَّتِهِ وَكَانَ يُحِّبُ مَا يُخَفِّفُ عَنْهُمْ
Dari ‘Aisyah ra ia berkata : “Demi Allah, beliau tidak pernah meninggalkan shalat dua raka’at sehingga beliau Saw bertemu dengan Allah, dan beliau tidak bertemu dengan Allah Swt hingga beliau merasa berat melakukan shalat. Dan beliau sering melakukan shalatnya dengan duduk, yaitu shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘ashar, dan Nabi Saw biasa mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘Ashar itu tidak di dalam masjid karena takut akan memberatkan umatnya dan beliau senang terhadap sesuatu yang membuat ringan bagi umatnya” [HR. Al-Bukhari nomor 565].
Hadis keenam:
عَنْ أَبِى سَلَمَة أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ عَنِ السَّجْدَتَيْنِ اللَّتَيْنِ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الْعَصْرِ فَقَالَتْ كَانَ يُصَلِّيهِمَا قَبْلَ الْعَصْرِ ثُمَّ إِنَّهُ شُغِلَ عَنْهُمَا أَوْ نَسِيَهُمَا فَصَلاَّهُمَا بَعْدَ الْعَصْرِ ثُمَّ أَثْبَتَهُمَا وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَثْبَتَهَا. قَالَ يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ قَالَ إِسْمَاعِيلُ تَعْنِى دَاوَمَ عَلَيْهَا.
Dari Abu Salamah bahwasannya ia bertanya kepada ‘Aisyah ra tentang dua sujud (maksudnya : dua raka’at) yang dilakukan Rasulullah Saw ba’da ashar. Maka ‘Aisyah menjawab : “Beliau biasa shalat dua raka’at sebelum ‘ashar, namun kemudian beliau dibuat sibuk atau beliau lupa mengerjakannya. Maka beliau Saw mengerjakannya (yaitu menggantinya) ba’da ‘asar dan kemudian menetapkannya. Beliau apabila biasa mengerjakan suatu shalat maka beliau menetapkannya”. Telah berkata Yahya bin Ayyub (perawi hadis) : Telah berkata Isma’il : “Yaitu mendawamkannya (= selalu mengerjakannya)” (HR. Muslim no. 1971).
Hadis ketujuh:
عن عائشة قالت مَا تَرَكَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ عِنْدِيْ قَطّ
Dari ‘Aisyah ra ia berkata : “Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkan dua raka’at ba’da ‘ashar di sisiku (rumahku) (HR. al-Bukhari no. 566 dan Muslim no. 1972).
Hadis kedelapan:
عن عائشة قالت صَلاتَانِ مَا تَرَكَهمَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ بَيْتِيْ قَطّ سِرًا وَلا عَلانِيَةً رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلفَجْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ
Dari ‘Aisyah ra ia berkata : “Dua shalat yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah Saw di rumahku dalam keadaan apapun yaitu : Dua raka’at sebelum fajar/shubuh dan dua raka’at setelah ‘ashar” (HR. Al-Bukhari no.567 dan Muslim nomor 1973).
Hadis kesembilan:
عن عائشة قالت مَا كَانَ النّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِيْنِيْ فِيْ يَوْم بَعْدَ اْلعَصْرِ إِلا صَلَّى رَكْعَتَيْنِ
Dari ‘Aisyah ra ia berkata : “Tidaklah Nabi Saw mendatangiku di suatu hari setelah ‘Ashar melainkan beliau mengerjakan shalat dua raka’at” (HR. Al-Bukhari no.568).
Hadis kesepuluh:
عن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يُصَلِّى بَعْدَ اْلعَصْرِ إِلا أَنْ تَكُوْنَ الشَمْسُ بَيْضَاءَ مُرْتَفِعَة
Dari ‘Ali bin Abi Thalib ra ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Saw: “Janganlah seseorang shalat setelah ‘ashar kecuali  bila matahari masih putih dan tinggi’ ([HR. Ibnu Khuzaimah no. 1284)[3].
Keterangan:
Dari beberapa hadis di atas dapat dipahami sebagai berikut :
1.      Nabi Saw pernah mengerjakan shalat sunnah ba’da ‘ashar sebagai ganti shalat sunnah dua raka’at ba’da (sesudah) dhuhur atau dua raka’at qabla (sebelum) ‘ashar karena kesibukan beliau dalam melayani sebagian shahabatnya.
2.      Nabi Saw (kemudian) sering atau biasa mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘ashar tidak di dalam masjid, tetapi di rumah, karena takut akan memberatkan umatnya dan beliau senang terhadap sesuatu yang membuat ringan bagi umatnya;
3.      Kebolehan melaksanakan shalat sunnah setelah ‘ashar ini diberikan dengan taqyid (pembatasan), yakni jika matahari masih tinggi/panas dan bercahaya putih (belum meredup) sebagaimana dikhabarkan oleh ‘Ali bin Abi Thalib ra. Adapun jika matahari telah redup cahayanya, maka tidak boleh mengerjakan shalat sunnah ba’da ashar sebagaimana keumuman larangan dalam hadis pertama.

C.Pandangan ulama mengenai shalat sunnah setelah ‘ashar.

1.      Pada umumnya ulama melarang shalat sunnah setelah shalat ashar. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah. Pendapat ini didukung oleh Umar bin Khattab, Ibn Umar, Ibn ‘Abbas, Khalid bin Walid, Mu’awiyah, dan sejumlah shahabat yang lain. Di kalangan Tabi’in dan Tabi Tabi’inantara lain Malik, al-Awza’i, al-Tsauri, Abu Tsaur, Hanafi, Syafi’i, Ishaq, dan Ahmad.[4]
2.      Mengingat adanya hadis yang melarang shalat sesudah ashar, dan adanya hadis tentang shalatnya Rasulullah Saw setelah ashar, sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah ra, maka larangan shalat sunnah setelah ashar hukumnya makruh. Kecuali  jika shalat sesudah ashar itu merupakan shalat qada (pengganti) dari shalat sunnah ba’da dhuhur yang tidak sempat dilakukan, atau karena ada sebab lain maka hal itu dibolehkan. Pendapat ini termasuk pendapat dari Imam Syafi’i;[5]
3.      Shalat sunnah setelah ashar, merupakan “kekhususan” bagi Nabi Saw, tidak berlaku bagi umatnya. Alasannya, karena sungguhpun ada hadis yang menunjukkan bahwa Nabi Saw pernah melakukan shalat sunnah setelah ashar, tetapi juga terdapat hadis yang melarang shalat setelah ashar hingga terbenamnya matahari. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah al-Thahawi;[6]
4.      Larangan shalat sunnah setelah ashar, adalah bila waktunya mendekati matahari terbenam. Namun, jika waktu ashar masih panjang, maka shalat sunnah setelah ashar boleh saja. Hal ini berdasarkan pada hadis ‘Aisyah yang menerangkan bahwa Nabi Saw telah membiasakan shalat sunnah setelah ashar, hingga beliau wafat. Selain itu juga berdasarkan hadis riwayat Ali yang membolehkan shalat setelah ashar bila matahari masih putih dan tinggi. Yang berpendapat seperti ini antara lain Muhammad Nashiruddin al-Albani. [7] 
Wallahu a’lam bishshawab!




[1] Imam al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, Vol. I (Bayrut: Dar Ibn Katsir, 1987), 213.
[2] Menurut al-Albani, hadis tersebut hasan shahih. Al-Albani, Shahih Wa Da’if Sunan al-Nasa-i, Vol.II/ 224.
[3] Muhammad Mushthafa Al-A’dhami menilai hadis tersebut shahih. Ibn Khuzaymah, Shahih Ibn Khuzaymah, tahqiq Mushthafa al-A’dhami, Vol.II (Bayrut: al-Maktab al-Islami, 1970), 265.
[4]Ibn Rajab, Fath al-Bari, Vol.III (al-Su’udiyah: Dar Ibn al-Jawzi, 1422 H), 280.
[5] Muhammad Syams al-Haq al-‘Adzim al-Abadi, ‘Awn al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Vol.IV (Bayrut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1415 H), 107.
[6] Al-Syawkani, Nayl al-Awthar, Vol.III/ 33.
[7] Muhammad Nashiruddin al-Albani, al-Silsilah al-Shahihah, Vol.VI/ 48.

Kamis, 07 November 2013

ZAKAT KEPADA KELUARGA SENDIRI

Hukum Berzakat Kepada Keluarga Sendiri

Oleh


Dr.H.Achmad Zuhdi Dh,M.Fil I


Zakat kepada keluarga sendiri yang menjadi tanggungannya, seperti anak, isteri dan orangtua, menurut jumhur ulama tidak dibolehkan. Anak adalah tanggungan orangtua, sehingga orangtua wajib menafkahinya; dan isteri adalah tanggungan suaminya, sehingga suami wajib menafkahinya; demikian juga orangtua adalah tanggungan anaknya, sehingga anak wajib menafkahinya. Karena anak menjadi tanggungan orangtua, isteri menjadi tanggungan suaminya, dan orangtua menjadi tanggungan anaknya, maka zakat tidak boleh diberikan kepada mereka. Mereka justru berhak mendapatkan nafkah darinya.
Adapun zakat kepada keluarga sendiri yang tidak menjadi tanggungannya, seperti saudara, paman, keponakan, dan sanak kerabat lainnya, maka ulama membolehkannya. Menyerahkan zakat kepada sanak kerabat (keluarga sendiri) dibolehkan jika memang mereka betul-betul orang yang berhak menerima zakat yaitu termasuk delapan golongan sebagaimana yang dijelaskan dalam surat al-Taubah ayat 60. Bahkan kerabat (keluarga sendiri) lebih berhak mendapatkan zakat dari yang lainnya karena akan mendapatkan dua pahala sekaligus. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw:
 إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin pahalanya satu sedekah. Sedangkan sedekah kepada kerabat pahalanya dua, yaitu pahala sedekah dan pahala menjalin hubungan kekerabatan.”(HR. al-Tirmidzi dari Salman bin Amir). Al-Albani mengatakan hadis ini hasan-sahih.
Termasuk keluarga sendiri yang boleh menerima zakat adalah suami dari isterinya dan anak dari  ibunya. Suami yang miskin boleh menerima zakat dari isterinya, dan anak yang miskin juga boleh menerima zakat dari ibunya. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Saw berikut ini:
  ثُمَّ انْصَرَفَ فَلَمَّا صَارَ إِلَى مَنْزِلِهِ جَاءَتْ زَيْنَبُ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ تَسْتَأْذِنُ عَلَيْهِ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ زَيْنَبُ فَقَالَ «أَىُّ الزَّيَانِبِ». فَقِيلَ امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ. قَالَ« نَعَمِ ائْذَنُوا لَهَا ». فَأُذِنَ لَهَا قَالَتْ يَا نَبِىَّ اللَّهِ إِنَّكَ أَمَرْتَ الْيَوْمَ بِالصَّدَقَةِ، وَكَانَ عِنْدِى حُلِىٌّ لِى، فَأَرَدْتُ أَنْ أَتَصَدَّقَ بِهِ، فَزَعَمَ ابْنُ مَسْعُودٍ أَنَّهُ وَوَلَدَهُ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَلَيْهِمْ. فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم–«صَدَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ، زَوْجُكِ وَوَلَدُكِ أَحَقُّ مَنْ تَصَدَّقْتِ بِهِ عَلَيْهِمْ »
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai berkhutbah, sesampainya beliau di tempat tinggalnya, datanglah Zainab, isteri Ibnu Mas’ud meminta izin kepada beliau, lalu dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini adalah Zainab”. Beliau bertanya, “Zainab siapa?”. Dikatakan, “Zainab isteri dari Ibnu Mas’ud”. Beliau berkata, “Oh ya, persilakanlah dia”. Maka dia diizinkan kemudian berkata, “Wahai Nabi Allah, sungguh engkau hari ini sudah memerintahkan shadaqah (zakat) sedangkan aku memiliki emas yang aku berkendak menzakatkannya namun Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap apa yang akan aku sedekahkan ini dibandingkan mereka (mustahiq).“ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibnu Mas’ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih barhak kamu berikan shadaqah (zakat) daripada mereka“.(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Mengenai pengumpulan zakat, idealnya diserahkan kepada lembaga zakat seperti Badan Amil Zakat (BAZ) milik pemerintah atau Baitul Mal. Hal ini mengacu kepada sejarah pada masa khalifah, di mana saat itu zakat dikumpulkan oleh pegawai sipil (amilin) dan didistribusikan kepada mereka yang berhak (mustahik). Tetapi, sejak kejatuhan khalifah dan negara-negara Islam, zakat tidak dapat diselenggarakan oleh pemerintah, dan sejak itu zakat dikelola oleh masing-masing muzakki(orang yang berzakat) sendiri untuk diserahkan kepada lembaga atau sasaran masyarakat yang berhak menerima. Untuk saat ini, meskipun tidak ada keharusan menyerahkan zakat kepada BAZ, demi tersalurnya zakat secara tepat dan merata dan sesuai sasaran, maka sebaiknya zakat diserahkan kepada lembaga zakat yang sudah terpercaya seperti LAZISMU dan lain-lain. 

Telah dimuat dalam majalah 
informasi donatur Lazismu Sidoarjo 
edisi September-Oktober 2013

Sabtu, 26 Oktober 2013

TAHAJJUD DAN MENANGIS

Shalat Tahajjud dan Baca al-Qur’an
hingga menangis

Oleh:

DR.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I
www.zuhdidh.blogspot.com

Hadis Pertama
Dalam kitab Sahih Ibn Hibban, II/386, disebutkan:
عن عطاء قال : دخلت أنا و عبيد بن عمير على عائشة فقال ابن عمير
‘Atha’ berkata: Aku dan  Ubaid bin Umair  menemui Aisyah ra, lalu Ibn ‘Umair berkata:
أخبرينا بأعجب شيء رأيته من رسول الله صلى الله عليه و سلم
"Wahai Aisyah sampaikanlah kepada kami sesuatu yang mengagumkan dari kehidupan Rasulullah Saw."
فسكتت ثم قالت : لما كان ليلة من الليالي قال : ( يا عائشة ذريني أتعبد الليلة لربي
Aisyah kemudian diam. Setelah itu ia menceritakan bagaimana Rasul beribadah  di malam hari. Suatu saat Rasulullah berkata: Wahai ‘Aisyah biarkan aku beribadah malam (salat tahajjud) kepada Tuhanku.
قلت : والله إني لأحب قربك وأحب ما سرك
Aku (Aisyah) berkata, "Demi Allah, aku ingin selalu dekat denganmu dan melakukan sesuatu yang membahagiakanmu.
قالت : فقام فتطهر ثم قام يصلي قالت : فلم يزل يبكي حتى بل حجره قالت : ثم بكى فلم يزل يبكي حتى بل لحيته قالت : ثم بكى فلم يزل يبكي حتى بل الأرض
Aisyah mengisahkan: saat itu Rasulullah Saw berdiri, kemudian bersuci lalu melakukan salat.  Saat salat, Rasulullah Saw selalu menangis hingga membasahi lekuk matanya, lalu menangis lagi hingga membasahi jenggotnya, lalu menangis lagi hingga membasahi lantai tempat beliau salat.
فجاء بلال يؤذنه بالصلاة فلما رآه يبكي قال : يا رسول الله لم تبكي وقد غفر الله لك ما تقدم وما تأخر ؟
MakaBilal datang mengumandangkan azan Subuh. Ketika ia mengetahui Rasulullah saw sedang menangis, ia berkata:  "Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis seperti itu? Tidakkah Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang?"
قال : ( أفلا أكون عبدا شكورا لقد نزلت علي الليلة آية ويل لمن قرأها ولم يتفكر فيها { إن في خلق السموات والأرض } ) الآية كلها
Rasulullah  menjawab:"Sungguh aku ingin menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur!". Nabi kemudian menambahkan penjelasannya, sungguh tadi malam Allah telah menurunkan ayat (QS, Ali Imran (3) ayat 190-191), yang barangsiapa membacanya lalu tidak merenungkannya maka ia akan celaka.
قال شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط مسلم
Syu’aib al-Arnout mengtakan: sanad hadis ini sahih sesuai dengan persyaratan Imam muslim.
Hadis kedua:
Al-Thahawi dalam kitab Musykil al-Atsar X/36, meriwayatkan:
 عن عطاء بن أبي رباح قال : « دخلت مع عبد الله بن عمر وعبيد بن عمير على عائشة رضي الله عنها  ، فقال ابن عمر : حدثينا بأعجب ما رأيت من رسول الله صلى الله عليه وسلم ،
 Atha’ berkata: Aku, Ibnu Umar dan Ubaid bin Umair pernah menghadap Aisyah ra. Lalu Ibnu Umar berkata : “Wahai Aisyah ceritakanlah kepada kami sesuatu yang mengagumkan dari Rasulullah Saw.”
 فبكت بكاء شديدا ، ثم قالت : كل أمره كان عجبا،
Saat itu Aisyah menangis, lalu berkata: "segala urusannya, prilakunya sangat menakjubkan".
  أتاني ذات ليلة ، وقد دخلت فراشي ، فدخل معي حتى لصق جلده بجلدي ، ثم قال :   يا عائشة ائذني لي أتعبد لربي عز وجل  
“Pada suatu malam, di mana malam itu memang merupakan malam yang menjadi giliranku, Rasulullah Saw datang kepadaku. Saat itu kulit beliau bersentuhan dengan kulitku, lalu beliau bersabda : “Wahai Aisyah, izinkanlah  aku untuk beribadah kepada Tuhanku.”
 قالت : قلت : يا رسول الله ، إني لأحب قربك وأحب هواك ، قالت : فقام إلى قربة في البيت ، فتوضأ منها ، ثم قرأ القرآن ، ثم بكى حتى ظننت أن دموعه بلغت حبوته ، ثم جلس ، فدعا وبكى حتى ظننت أن دموعه بلغت حجزته(حجره) ، ثم اضطجع على يمينه ، وجعل يده اليمنى تحت خده الأيمن ، ثم بكى حتى ظننت أن دموعه قد بلغت الأرض ،
Aku (Aisyah) berkata : “Ya Rasulullah! Sungguh Aku suka dekat kepadamu, dan menyukai kesukaanmu. 'Aisyah berkata:  Lalu Rasulullah Saw bangkit beranjak ke sebuah tempat air yang ada di dalam rumah, beliau berwudu dengannya, kemudian membaca al-Qur'an, kemudian beliau menangis hingga aku menduga air mata beliau mengalir mengenai surbannya, kemudian beliau duduk lalu berdoa dan menangis hingga aku menduga air matanya jatuh ke pangkuannya, kemudian beliau berbaring ke lambung sebelah kanannya, dan meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya yang kanan, kemudian beliau menangis lagi hingga aku menduga air matanya sampai ke lantai (tanah).
 ثم جاءه بلال بعدما أذن ، فسلم ، فلما رآه يبكي قال : يا رسول الله ، تبكي وقد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر قال : وما لي لا أبكي ، وقد أنزلت علي الليلة : إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار .. . الآية ، ويل لمن قرأها ، ثم لم يتفكر فيها ، ويحك يا بلال ألا أكون عبدا شكورا »
Kemudian Bilal mendatanginya setelah adzan, lalu ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Saw. ketika Bilal melihat Rasulullah Saw sedang menangis, ia berkata: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis, padahal Allah telah menjamin mengampuni dosamu baik yang dulu maupun yang akan datang?  Rasulullah Saw bersabda: yang menyebabkan aku menangis karena tadi malam telah turun ayat kepadaku (QS.Ali Imran ayat 190-191), apabila ada orang yang membaca ayat tersebut kemudian tidak merenungkannya, maka ia akan celaka. Wahai Bilal,  tidakkah pantas aku menjadi hamba yang suka bersyukur?.
Al-Albani: hadis tersebut sahih
Hadis ketiga:
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah ra, ia berkata:
 كان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إذا صلى قام حتى تفطر رجلاه. قالت عائشة : يا رسول الله أتصنع هذا وقد غُفِرَ لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر؟!، فقال  صلى الله عليه وسلم ـ : يا عائشة أفلا أكون عبدا شكورا
“Nabi Saw pernah bangun salat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Lalu ‘Aisyah bertanya, ”Mengapa Anda melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang dulu maupun yang akan datang?” Beliau Saw menjawab: “tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Pelajaran dari hadis-hadis tersebut:

1. Rasulullah Saw adalah suami yang sangat lembut hatinya, perhatian pada isterinya, tidak ingin menyinggung apalagi menyakiti isterinya, hingga ketika mau salat malam pun beliau terlebih dahulu minta izin isterinya;
3. ‘Aisyah ra adalah isteri yang sangat baik, bangga, kagum, dan mencintai suaminya dan selalu ingin membuat suaminya bahagia;
3. Rasulullah Saw apabila salat malam, waktunya lama sekali hingga kedua telapak kakinya bengkak;
4. Selain salat malam, beliau juga membaca al-Qur’an;
5. Ketika salat malam dan membaca al-Qur’an, Rasulullah sering menangis hingga membasahi pipi, surban dan pangkuannya, bahkan lantainya;
6. Setelah selesai salat malam, beliau biasa istirahat dengan cara berbaring ke sebelah lambung kanan dan menjadikan tangan kanannya sebagai bantal bagi pipi kanannya.


Rabu, 09 Oktober 2013

DAGING KORBAN UNTUK NON MUSLIM

DAGING KORBAN UNTUK NON MUSLIM

Oleh

 Dr.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I

            Hukum memberikan daging korban kepada non muslim, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama[1]. Sebagian ulama Syafi’iyah mengharamkannya[2]. Sedangkan ulama Malikiyah memakruhkannya[3]. Adapun ulama Hanafiyah dan Hanabilah[4], membolehkannya asal bukan daging korban yang wajib.
Al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab[5]mengutip pendapat Ibn al-Mundzir sebagai berikut:
أجمعت الامة على جواز اطعام فقراء المسلمين من الاضحية واختلفوا في اطعام فقراء أهل الذمة فرخص فيه الحسن البصري وأبو حنيفة وأبو ثور  وقال مالك غيرهم أحب الينا وكره مالك أيضا إعطاء النصراني جلد الاضحية أو شيئا من لحمها وكرهه الليث قال فان طبخ لحمها فلا بأس بأكل الذمي مع المسلمين منه  
“Ulama sepakat daging korban boleh diberikan kepada fakir miskin Islam, namun mereka berbeda pendapat mengenai memberi makan daging korban kepada fakir miskin ahli dzimmah (non muslim). Imam Hasan al-Basri memberi keringanan (membolehkan) mereka memakannya. Demikian juga Abu Hanifah dan Abu Tsur juga membolehkannya. Sementara Imam Malik lebih suka ia memberi makan daging korban kepada fakir-miskin yang muslim dan menganggapnya makruh memberikan daging korban kepada kaum nasrani (non muslim), baik kulit maupun dagingnya.  Adapun Al-Laytsmenganggapnya makruh, namun ia berpendapat jika daging korban tersebut dimasak boleh diberikankepada ahl dzimmah(non musim) berserta fakir miskin Islam.


Lebih lanjut al-Nawawi[6]mengatakan:
أنه يجوز إطعامهم من ضحية التطوع دون الواجبة
“Boleh saja memberikan makan daging korban kepada non muslim, asal korban sunnah bukan korban yang wajib” (misalnya korban nazar).

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz[7]mengatakan: “Kita boleh saja memberikan hasil korban berupa daging kepada orang kafir (non muslim) yang memiliki ikatan perjanjian dengan kaum muslimin. Boleh memberikan hasil korban tersebut karena kekerabatannya, ia sebagai tetangga, atau ingin melembutkan hatinya. Yang namanya ibadah korban adalah sembelihan yang disajikan untuk Allah sebagai bentuk pendekatan diri dan ibadah kepada-Nya. Adapun daging korban, lebih afdhol dimakan oleh shahibul korban sepertiganya, lalu sepertiganya lagi dihadiahkan pada kerabat, tetangga dan sahabatnya, kemudian sepertiganya lagi sebagai sedekah untuk orang miskin. Jika lebih atau kurang dari sepertiga tadi atau hanya cukup untuk sebagian mereka saja, maka tidaklah masalah. Masalah ini ada kelapangan. Namun daging hasil korban tidak boleh diserahkan pada kafir harbi (non muslim yang memerangi kaum muslimin). Karena kafir harus ditekan dan dilemahkan, tidak boleh simpati dan malah menguatkan mereka dengan diberi sedekah. Demikian berlaku dalam sedekah sunnah.

Allah Ta’ala berfirman:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS al-Mumtahanah [60]: 8). “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.”(QS. Al Mumtahanah[60]: 9).
Ayat tersebut menjelaskan bahwa syariat Islam tidak melarang umatnya untuk bermuamalah (bergaul) dengan baik kepada umat lain, bahkan syariat Islam memberikan bimbingan agar berbuat baik dan adil kepada orang-orang kafir selama mereka tidak memusuhi dan mengusir umat Islam dari tanah airnya.
Dalam ayat lain disebutkan:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
”Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang di tawan.” (QS al-Insan [76]: 8).
Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni [8] menjelaskan bahwa daging kurban adalah makanan yang boleh dimakan sehingga boleh diberikan sebagai makanan bagi orang kafir dzimmi (non muslim) sebagaimana makanan-makanan lainnya, dan merupakan sedekah sunah yang dianjurkan. Karenanya, boleh diberikan kepada orang kafir dzimmi dan para tawanan sebagaimana sedekah sunah lainnya.
Tentang  kebolehan berbuat baik dengan orang non muslim selain kafir harbi adalah berdasarkan praktek Nabi Saw  yang pernah menyuruh Asma’ binti Abi Bakr ra untuk tetap berbuat baik kepada ibunya yang musyrik saat hadanah (perdamaian).” Disebutkan dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim, dari Asma binti Abi Bakr, ia berkata:

قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، قُلْتُ، وَهِيَ رَاغِبَةٌ: أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ: نَعَمْ صِلِي أُمَّك
”Aku pernah didatangi ibuku yang masih musyrik pada masa Rasulullah saw lalu aku meminta fatwa dari Rasulullah saw. Aku berkata,’Sesungguhnya ibuku datang, dia begitu ingin(menemuiku), apakah aku sambungkan silaturahim dengan ibuku?’ beliau bersabda,’Ya, sambungkanlah ibumu”.
Berdasarkan keterangan tersebut dapat diketahui bahwa mayoritas ulama tidak melarang atau tidak mengharamkan daging korban diberikan kepada non muslim. Oleh karena itu maka  tidak mengapa memberikan sebagian dari daging kurban kepada tetangga yang non-muslim sebagai hadiah atau sedekah, terutama  jika kurang mampu.
 Wallahu a’lam bishshawab !



[1]Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, VIII/425.
[2]Al-Syarbini, al-Iqna’, II/593.
[3] Wahbah al-Zuhayli, al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuhu, II/282.
[4] Abd al-Rahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘Ala al-Madzahib al-Arba’ah, I/1114.
[5] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, VIII/425.
[6] Ibid. Baca juga Al-Syarbini, al-Iqna’, II/593.
[7] Abdullah bin Baz, Fatawa Islam, I/134.
[8] Ibn Qudamah, al-Mughni, IX/ 450.