Kamis, 08 November 2012

PERANAN ORANGTUA MENGANTAR KESUKSESAN ANAK


PERANAN ORANGTUA MENGANTAR
KESUKSESAN ANAK

Oleh:

Achmad Zuhdi Dh
0817581229

1.    Mempersiapkan calon Ibu-Bapak yang berkualitas;
Ibarat orang yang ingin sukses dalam berkebun, agar mendapatkan hasil yang maksimal, maka benih yang hendak disemaikan pun harus berkualitas, tidak boleh sembarangan. Begitu pula jika menginginkan anak yang berkualitas, maka calon bapak-ibunya pun harus dipersiapkan dengan baik, serasi, sevisi, seiman, dan berkualitas lahir maupun batin. (QS.al-Baqarah, 221, al-Nur, 26, al-Rum, 21).

2.    Menanam benih di tempat yang baik dan dengan cara yang baik dan benar ;

Benih tanaman yang berkualitas untuk menjadi tanaman berkualitas haruslah disemaikan di lahan yang kondusif. Lahan yang kondusif itu adalah keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah (QS. al-Rum, 21). Yaitu suatu keluarga yang ditegakkan sebagai suatu organisasi yang solid. Organisasi yang solid dibentuk untuk mencapai tujuan bersama dengan cara kerja sama bukan sama-sama kerja. Apapun peran laki-laki dan perempuan di sektor publik, di rumah tetap memiliki kedudukan yang tidak boleh diotak-atik, laki-laki sebagai suami dan bapak, wanita sebagai istri dan ibu dengan segala hak dan kewajibannya masing-masing. Kunci utama dalam memperkokoh dan mengharmoniskan bangunan kelarga adalah dengan cara "masing-masing berbuat yang terbaik buat keluarga". Nabi Saw bersabda:

خِيَارُكُمْ خِياَرُكُمْ لاَِهْلِهِ
"Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik dalam bersikap terhadap keluarganya". (HR. al-Tabrani, al-Albani: Sahih).

Selain menciptakan suasana keluarga yang kondusif, agar kelak menghasilkan keturunan (anak) yang unggul, maka sebelum meletakkan benih (berhubungan suami-isteri), dianjurkan membaca doa sebagai berikut:

بِاسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

"Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan  dan jauhkanlah setan dari rizki (anak) yang kauberikan pada kami". (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Setelah selesai berhubungan, dianjurkan berwudu. Hal ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah Saw:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ جُنُبًا فَأَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَنَامَ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ.
     
"Dari 'Aisyah ra, ia berkata: Rasulullah Saw itu apabila junub, kemudian mau makan atau tidur, maka beliau melakukan wudu seperti wudu untuk shalat". (HR. Muslim).

3.    Menyambut gembira dan rasa syukur atas lahirnya anak.

Terlepas dari pertimbangan ekonomi, politik dan budaya yang bisa berubah-ubah, pada dasarnya anak adalah anugrah, ni’mat bahkan dalam do’a saat hendak berhubungan suami-istri, anak diistilahkan dengan “rizki”. Kenikmatan itu pada dasarnya adalah hal yang positif tetapi dalam kenyataannya bisa positif bisa negatif tergantung bagaimana kita menyikapinya termasuk hadirnya seorang anak. Bersyukur adalah menyikapi kenikmatan secara positif dan kufur adalah menyikapi kenikmatan dengan negatif.

Untuk menunjukkan rasa syukur atas lahirnya anak, maka para kerabatnya dianjurkan membaca ucapan selamat dengan iringa doa sbb:

بُوْرِكَ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ وَرُزِقْتَ بِرَّهُ وَبَلَغَ أَشُدَّهُ

"Semoga (anak) yang diberikan Allah ini membawa berkah untukmu, Engkau patut bersyukur kepada sang Pemberi (Allah), semoga engkau mendapatkan kebaikannya, dan semoga ia tumbuh hingga dewasa" (Al-Suyuti, al-Hawi, I/80)
4.    Mengadzani dan mengqamati setelah kelahirannya.
Nabi Saw bersabda:
عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى، وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى رُفِعَتْ عَنْهُ أُمُّ الصَّبِيَّاتِ "

"Dari al-Husain bin Ali, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: barangsiapa anaknya lahir, kemudian mengadzaninya di telinga kanan lalu mengqamatinya pada telinga kiri, maka ia akan terbebas dari gangguan um al-sibyan (jin, setan) (HR. al-Tirmidzi dan al-Baihaqi). Al-Tirmidzi menilai hadis ini hasan, tetapi sebagian ulama men-daif-kannya.

Hikmah adzan di sini, menurut Ibn al-Qayyim adalah agar pertama yang sampai pada pendengaran si bayi ini berupa suara kalimat yang mengangungkan Allah. Wallahu a'lam! (Ibn al-Qayyim, Tuhfat al-Maulud, VI/2)
5.    Melakukan tahnik (mengolesi bayi dengan kurma)

Hadis Nabi Saw riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Asma ra: bahwasanya pada saat seorang bayi dihadapkan kepada Rasulullah saw, maka beliau memangkunya lalu meminta kurma lalu dikunyahnya; setelah itu beliau meniupkan ke mulut bayi itu, selanjutnya mengoles-olesi bibir si bayi itu dengan kurma yang sudah dilembutkan dan berdoa serta meminta kepada Allah untuk keberkahannya. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

6.    Memberi nama anak yang baik.

Sebagai pribadi yang unik, maka sudah menjadi kebiasaan setiap anak setelah kelahirannya pasti diberi nama. Rasululloh SAW bersabda:

فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ

"Karena itu pilihlah nama yang baik bagi kalian” (H.R. Ahmad dan Abu Dawud dan lain-lain).

 Bahkan beliau sering mengganti nama orang apabila nama aslinya dianggap jelek. Pemberian nama yang baik, mengandung tiga hal yaitu:

1. Nama sebagai identitas, merk atau brand sebagai panggilan yang baik.
 2. Nama sebagai assesori, perhiasan, mahkota yang dengannya anak merasa percaya diri, bangga, minimal tidak malu atau minder.
3. Nama sebagai doa atau harapan yang memiliki makna sesuai dengan potensi yang dibawa. Setelah diberi nama yang baik pada saatnya anak harus dijelaskan tentang apa makna nama yang dimilikinya agar memiliki dorongan untuk memiliki kepribadian sesuai dengan namanya.

7.    Selain memberi nama, juga memotong rambut si bayi dan menyembelih aqiqah (seekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki) pada hari ketujuh dari kelahirannya.

Nabi Saw bersabda:

عَنْ سَمُرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ ، وَيُسَمَّى.

"Dari Samurah, Rasulullah Saw bersabda: setiap anak yang lahir tergadai dengan aqiqahnya, aqiqahnya itu disembelihkan pada hari ketujuh dari kelahirannya, kemudian rambut bayi itu dicukur dan diberi nama". (HR. Ashhab al-Sunan). Al-Albani: Sahih.

8.    Kenalkan Masa Depan Yang Sempurna

Perbedaan orang yang kafir dan yang beriman di antaranya adalah konsep tentang “masa depan”. Masa depan orang kafir sekedar sebelum mati sedangkan masa depan mu’min meliputi sebelum dan sesudah mati (Q.S. 2:200-201). Masa depan sebelum mati sifatnya mungkin sedangkan masa depan sesudah mati sifatnya pasti. Masa depan sesudah mati harus diseriusi sedangkan masa depan sebelum mati jangan dilupakan (Q.S. 28:77). Siapa yang sungguh-sungguh mencari akhirat akan mendapat kemungkinan duniawi namun siapa yang hanya sibuk mencari dunia jangankan mendapat kepastian masuk surga, bagian di duniapun belum tentu mendapatkannya. Bisa jadi mati mendadak atau hidup menderita komplikasi.


9.    Bekali Ilmu Yang Memadai

Pada dasarnya setiap anak dilahirkan tanpa memiliki ilmu (Q.S. 16:78) dan setiap manusia harus hidup berdasarkan ilmu (Q.S. 17:36). Maka kewajiban orang tua di samping memenuhi kebutuhan pertumbuhan maka harus dipenuhi pula kebutuhan perkembangannya. Paling tidak setiap anak berhak untuk dibekali dengan tiga disiplin ilmu yaitu ilmu syar’i atau agama untuk menghidupkan hatinya, ilmu profesi untuk menghidupkan otaknya, dan ilmu beladiri untuk menghidupkan ototnya. Setiap anak berhak untuk diantar menjadi takwa, cerdas, dan terampil sehingga mampu menghadapi tiga masalah hidup yang tidak bisa dihindari oleh setiap manusia yaitu: moralitas, relativitas, dan kriminalitas. Oleh karena itu idealnya anak kita berhak untuk dididik menjadi Ulil Albab yaitu sosok pribadi yang memiliki kemampuan sebagai ahli dzikir, ahli fikir, dan ahli ikhtiar (Q.S. 3:190-191). Siap untuk menjadi aktivis masjid, sekolah, dan lapangan. Terpadunya aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. Untuk itu kita bersyukur sudah banyak lembaga-lembaga pendidikan islam terpadu yang siap membantu kita, tinggal kita saja yang harus banyak duitnya sebab pendidikan ini belum mendapat perhatian dari pemerintah. Mungkin dibutuhkan kemampuan kita untuk berjuang di dalam politik pendidikan.

10.Ajari Hidup Dari Realitas Dan Kendalikan Fasilitas

Hidup adalah perjuangan, setiap manusia diciptakan untuk menghadapi kesulitan sekaligus diberi naluri untuk menemukan kemudahan. Antara kesulitan dan kemudahan ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan (Q.S. 94:5-6). Oleh karena itu agar anak kita bisa mudah menghadapi kesulitan-kesulitan hidup mereka harus kita ajari hidup realistis. Setiap yang dia dapatkan hendaknya sebagai hasil dari ikhtiarnya. Kita perlu menghidupkan lagi pepatahyang mengajarkan berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Ajari mereka menjadi perintis bukan menjadi pewaris, ajari mereka sebagai pengais bukan sebagai pengemis, ajari mereka sebagai pelopor bukan sebagai pengekor, ajari mereka sebagai penggerak bukan sebagai penggertak, ajari mereka sebagai pemain bukan sebagai mainan. Jangan mentang-mentang kita sukses secara ekonomi dan mampu memanjakan mereka lantas kita perlakukan mereka sebagai ayam sayur yang besar dari fasilitas bukan dari realitas, sehingga mereka menjadi sosok yang steril tetapi tidak imun, ada kesulitan sedikit seakan-akan dunia sudah kiamat. Mungkin kita perlu mengambil ibrah dari bagaimana ayam kampung mengantar anak-anak mereka untuk menjadi penakluk yang tahan banting.

11.Ajari Mereka Memahami Tahapan Kehidupan (Manajemen Umur)

Hidup sebagai proses haruslah dilewati tahap demi tahap (Q.S. 84:19). Bila sudah menyelesaikan suatu tahapan cepat bersiap untuk memasuki tahapan berikutnya (Q.S. 94:7-8). Secara sederhana tahapan itu bisa dikaitkan dengan ukuran umur. Umur manusia sekarang memiliki harapan hidup antara 60-70 tahun. Paling tidak agar anak kita dapat melewati tahapan-tahapan yang benar kita beri pengarahan melewati tahapan hidup per 20 tahunan. Tahapan pertama usia 0-20 tahun titik tekannya adalah untuk penguasaan teori-teori kehidupan atau mencari ilmu yang meliputi ilmu syar’i, profesi, dan beladiri (Q.S. 16:78, Q.S. 17:36). Tahapan kedua usia 20-40 titik tekannya untuk menguasai materi sebagai citra dunia atau perhiasan dunia sehingga usia 40 sudah memiliki status al amin atau yang dapat dipercaya di masyarakatnya (Q.S. 3:14). Tahapan yang ketiga usia 40-60 titik tekannya pada penguasaan nilai-nilai kehidupan agar hidup terhormat, mulia, bahagia, dan berwibawa (Q.S. 46:15-16). Tahapan yang keempat usia 60 sampai akhir hayat, titik tekannya untuk persiapan masa transisi belajar meninggalkan dunia bersiap ke akhirat dengan berusaha memiliki prasasti dan presasti (Q.S. 36:12) paling tidak ketika mati memiliki peninggalan berupa shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan (H.R. Muslim)

12.Bekali Dengan Tiga Prinsip Hidup Muslim

Agar mereka menjadi orang yang sukses dunia akhirat bekalilah dengan tiga prinsip hidup muslim untuk meraih kemuliaan dan kemenangan, yaitu iman, hijrah, dan jihad atau keyakinan, perubahan, perjuangan atau cinta, proses, dan pengorbanan (Q.S. 9:20, Q.S. 2:218)


Referensi:

Al-Qur'an;
Al-Hadis;
Ibn al-Qayyim, Tuhfat al-Maulud, VI/2.
Al-Suyuti, al-Hawi, I/80
Al-Albani, al-Silslah al-Sahihah, IV/334





Kamis, 18 Oktober 2012

AMALAN SUNNAH SEPUTAR IDUL ADHA


Amalan Sunnah Seputar Idul Adha

Oleh:
Achmad Zuhdi Dh
0817581229

1.      Banyak beramal Shaleh pada 10 hari awal Dzul Hijjah

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada hari di mana suatu amal shaleh lebih dicintai Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan di sepuluh hari ini (tgl 1-10  Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi Saw bersabda: “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dgn jiwa & hartanya (ke medan jihad), & tak ada satupun yang kembali (mati & hartanya diambil musuh, pen).” (HR. Al Bukhari, Ahmad, & At Turmudzi)

2.      Berpuasa sunnah Arafah ( 9 Dzul Hijjah)

Dari Abu Qatadah ra. Nabi Saw bersabda:

  صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
“…Puasa hari ‘arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai kaffarah satu tahun sebelumnya & satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad & Muslim).

3.      Banyak bertakbir dan dzikr-dzikr lainnya

Allah berfirman:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (QS. Al Hajj: 28)

Dari Ibn Abbas ra
أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ يَوْمَ عَرَفَةَ إِلَى آخِرِ أَياَّمِ التَّشْرِيْقِ، لاَ يُكَبِّرُ فِي الْمَغْرِبِ
Bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau tak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah).
(HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: Sanadnya shahih)

4.      Merayakan Idul Adha

Dari Anas bin Malik ra, beliau mengatakan:
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ ». قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ ».
Bahwa ketika Nabi Saw tiba di Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dgn bermain. Kemudian nabi Saw bertanya: “Dua hari apakah ini?” mereka menjawab: kami merayakannya dgn bermain di dua hari ini ketika zaman jahiliyah. Kemudian Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memberikan ganti kepada kalian dgn dua hari yang lebih baik: Idul Fitri & Idul Adha.”
(HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad & dinilai shahih oleh Al albani)

5.         Berqurban

Allah berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Laksanakanlah shalat utk Tuhanmu dan sembelihlah qurban.”
(QS. Al Kautsar: 2)

Dari Abu Hurairah ra Nabi Saw bersabda:

 مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Siapa yang memililki kelapangan namun dia tak berqurban maka jangan mendekat ke masjid kami.” (HR. Ahmad & Ibn Majah & dihasankan Al Albani)

Bagi orang yang hendak berqurban, hendaknya tidak memotong kuku atau rambut dirinya (bukan hewannya) ketika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai dia memotong hewan qurbannya. (Al-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, VI/472)

Dari Umu salamah ra dari Nabi Saw bersabda:

مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ
“Barangsiapa yang memiliki hewan yang hendak dia sembelih (di hari raya Idul Adha), jika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah maka janganlah dia memotong rambutnya & kukunya sedikitpun, sampai dia menyembelih qurbannya.”
(HR. Muslim)

Yahya bin Ya`mur pernah memberi fatwa di Khurasan:

أَنَّ الرَّجُلَ إِذَا اشْتَرَى الْأُضْحِيَّةَ وَأَسْمَاهَا وَدَخَلَ الْعَشْرُ أَنْ يَكُفَّ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ حَتَّى يُضَحِّيَ

Bahwasanya orang yang telah membeli hewan kurban dan memberinya nama, dan sudah  masuk sepuluh hari (tgl 1-10 Dzul Hijjah) hendaknya ia menahan rambut dan kukunya (tidak memotongnya) hingga ia menyembelihnya
Ibn Hajar, al-Mathalib al-’Aliyah, X/445. 


Amalan Bid’ah di Bulan Dzulhijjah

(1)
Mengkhususkan puasa di hari tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah)
dengan keyakinan bhw hari tsb memiliki keutamaan tertentu. Karena tak ditemukan dalil yang menganjurkan puasa secara khusus pada tanggal 8 Dzulhijjah, selain hadis palsu yang menyatakan:

صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيةِ كَفَّارَةُ سَنَةً
“berpuasa pada hari tarwiyah dapat menghaapus dosa selama satu tahun.”

Imam Ibnul Jauzi al-Qurasyi menegaskan bahwa hadis ini tidak shahih,
karena di antara perawinya ada yang bernama al-Tibbi yang dikenal sebagai pendusta. (Al Maudhu’at, 2/198), dan Al-Albani men-da’ifkannya dalam Irwa al-Ghalil, IV/112).

Namun jika seseorang berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah karena hadis shahih yang menyebutkan keuatamaan 10 hari pertama Dzulhijjah, maka diperbolehkan.

(2)
Ta’rif di hari Arafah

Ta’rif adalah kegiatan di mana orang-orang yang tak sedang melaksanakan haji berkumpul bersama di masjid-masjid pada siang-sore hari, utk berdzikir  dan berdo’a sebagaimana yang dilakukan orang yang sedang wukuf di Arafah. Sebagian ulama menegaskan bahwa kegiatan ini termasuk perbuatan bid’ah. Berikut beberapa nukilan riwayat para ulama yang melarang ta’rif:

Muhammad bin Wadldlah al-Qurtubi dalam   al-Bida‘ Wa al-Nahy ‘Anha, I/53-54  menerangkan:
Dari Abu Hafs Al Madini, beliau menceritakan, bahwa masyarakat Madinah berkumpul setelah asar di masjid Nabawi pada hari arafah. Mereka memperbanyak berdo’a. Kemudian datanglah Nafi, bekas budak & murid Ibnu Umar, sambil mengatakan:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ الَّذِيْ أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِدْعَةٌ وَلَيْسَتْ بِسُنَّةٍ، إِنَّا أَدْرَكْنَا النَّاسَ وَلاَ يَصْنَعُوْنَ مِثْلَ هَذَا
Wahai manusia, sesungguhnya perbuatan yang sedang kalian lakukan adalah bid’ah dan bukan sunnah (tidak ada ajarannya). Sesungguhnya kami pernah menjumpai para sahabat, tak pernah melakukan hal ini..”

قال ابن عون شَهِدْتُ إِبْرَاهِيْمَ النَّخَعِيْ سُئِلَ عَنْ اجْتِمَاعِ النَّاسِ عَشِيَّةً عَرَفَةَ فَكَرِهَهُ وَقَالَ مُحْدَثٌ
Ibn Aun berkata: “Aku melihat Ibrahim An-Nakha’i ditanya tentang praktik beberapa orang yang berkumpul di masjid pada hari arafah. Beliau membencinya  dan mengatakan: Itu bid’ah”.

Diriwayatkan dari Sufyan bahwa beliau mengatakan:

لَيْسَتْ عَرَفَةُ إِلاَّ بِمَكَّةَ ، لَيْسَ فِيْ هَذِهِ الأَمْصَارِ عَرَفَة
Arafah hanya ada di Mekah, sementara di daerah lain tak ada Arafah.
(Ibn Wadldlah al-Qurtubi, Al Bida ‘  Wa al-Nahy ‘anha, I, 53-54 )

Imam Malik menanggapi kegiatan ta’rif ini dgn mengatakan:

لَيْسَ هَذَا مِنْ أَمْرِ النَّاسِ ، وَإِنَّمَا مَفَاتِيْحُ هَذِهِ الأَشْيَاءِ مِنَ الْبِدَعِ
Ini bukan termasuk kebiasaan para sahabat. Kunci pintu perbuatan semacam ini bersumber dari bid’ah.
(Abu Syamah, al-Ba’ith ‘Ala Inkar  al Bida`, I/32 )

والله اعلم بالصّواب
Wallahu A’lam Bi al-Shawab
شُكْراً كَثِيْراً

Selasa, 25 September 2012

ORIENTALISME DAN GERAKAN KRISTENISASI


 

ORIENTALISME
 DAN GERAKAN KRISTENISASI

oleh: Achmad Zuhdi Dh


A.    Studi Bahasa Arab


Jika orientalisme menganggap bahwa pengetahuan bahasa-bahasa Timur adalah merupakan perangkat penting yang dapat digunakan untuk mengenal agama dan peradaban Timur, maka sesungguhnya dalam hal ini Orientalisme sama dengan Kristenisasi. Hal ini (menguasai bahasa-bahasa Timur terutama  bahasa Arab) sangat ditekankan bagi para Juru dakwah Kristen yang akan melakukan kristenisasi di daerah-daerah kaum muslimin yang akan menjadi sasaran misi  Kristen.Gerakan studi bahasa yang dilakukan oleh misionaris-misionaris Kristen ini merupakan faktor penting bagi perkembangan orientalisme, sehingga pada waktu itu sulit dibedakan antara gerakan kristenisasi dan orientalisme.[1]Karena gerakan kristenisasi (motivasi agama) inilah yang merupakan sebab utama tumbuhnya gerakan orientalisme.
Roger Bacon (1214-1294 M) adalah salah seorang penyebar Kristen yang sangat agressif meminta teman-temannya agar mempelajari bahasa kaum muslimin untuk kepentingan kristenisasi. Bacon beranggapan bahwa kristenisasi adalah satu-satunya cara yang mungkin dilakukan untuk perluasan dan penyebaran agama kristen. Untuk mewujudkan tujuan itu maka diperlukan tiga syarat, yaitu:
1.  Harus mempelajari bahasa;
2. Mempelajari semua macam kekufuran, kemudian membedakan antara yangsatu dengan yang lain;
3.  Mempelajari semua dalil atau argumentasi agar dapat mematahkan lawan.[2]


Gagasan Bacon ini kemudian didukung oleh Reymond Lull (1235-1316 M). Reymond Lull lahir di Spanyol.[3]Ia mempelajari bahasa Arab dari Abdun Arabi. Ia mempunyai andil yang besar sekali dalam membina pengajaran bahasa Arab di beberapa tempat, hanya saja tujuannya tidak lain adalah untuk kegiatan kristenisasi. Mereka berusaha meyakinkan kaum muslimin dengan menggunakan bahasa Arab mengenai kelemahan-kelemahan Islam serta menarik kaum muslimin agar menjadi penganut Kristen.[4]
Pertemuan gereja di Wina pada tahun 1312 M juga mendukung gagasan Bacon dan Lull tentang penggalakan pengajaran bahasa-bahasa Islam (Arab). Sebagai tindak lanjutnya, di beberapa Universitas Eropa seperti Paris, Oxford, Polonia, Salmanka dan Universitas Kurie juga telah diajarkan bahasa Arab. Dalam hal ini Reymond Lull sempat menyaksikan impiannya tersebut, ia beranggapan bahwa sudah waktunya untuk menundukkan kaum muslimin dengan cara kristenisasi, dengan demikian tantangan berat yang menghambat perubahan manusia ke keyakinan Katolik dapat dihilangkan.[5]
Pada tahun 1539 M di Colleage de France Perancis telah dilengkapi dengan jurusan bahasa Arab yang dibina oleh Guillaume Postel[6](Wafat 1581 M) yang terhitung sebagai orientalis tulen. Ia telah banyak memberikan jasanya dalam membina pelajaran bahasa Timur di Eropa. Ketika ia berada di negara Timur, ia menemukan manuskrip-manuskrip penting yang baru dijabarkan oleh muridnya Joseph Scaliger[7](wafat 1609 M).
Postel tidak memisahkan diri dari kegiatan-kegiatan kristenisasi sama sekali, walaupun dari segi lain ia memuji-muji ketinggian kesusasteraan Arab, dan dalam bentuk khusus tentang tulisan-tulisan yang berkenaan dengan ilmu kedokteran dan falak. Ia berkata:
“Tak ada seorang pun yang dapat menolak hasil pengobatan yang digali dari ilmu kedokteran Arab; apa yang diuraikan Ibnu Sina dalam satu atau dua halaman, lebih berbobot dari apa yang dikatakan oleh Galinius dalam 5 atau 6 jilid yang tebal”.[8]
                  
       Walupun demikian, Postel tetap mengingatkan tentang keputusan pertemuan Wina yang disebutkan terdahulu, ia mengungkapkan betapa besar manfaatnya menguasai bahasa Arab, seperti yang dikatakan:  “...bahasa Arab sangat besar manfaatnya karena merupakan bahasa internasional, sebagai alat berkomunikasi dengan orang Maroko, Mesir, Syria, Persia, Turki, bangsa Tartar dan India. Sasteranya sangat kaya. Ia mangatakan bahwa barangsiapa menguasai bahasa Arab maka ia dengan mudah dapat mematahkan musuh-musuh aqidah Kristen dengan kitab suci, dan dapat membantah aqidah mereka yang dianutnya. Dengan jalan memahami bahasa Arab seseorang dapat berkomunikasi dengan orang sedunia”. Mereka bangga dengan menguasai bahasa Arab, karena dengan penguasaan bahasa Arab, mereka sanggup menyeberangi Asia sampai ke daratan Cina tanpa memerlukan penterjemah.[9]
         Pada tahun 1586 M pencetakan dan penerbitan buku-buku bahasa Arab di Eropa semakin terbuka jalannya, dan ketika itu buku-buku tersebut dicetak pada percetakan yang didirikan oleh Kardinal Ferdinand de Medici Tuscany. Telah banyak buku-buku berbahasa Arab yang dicetak,  di antaranya adalah karangan-karangan Ibnu Sina mengenai kedokteran dan filsafat.[10]
        Di antara orang yang berperan aktif dalam menunjang pengajaran bahasa Arab di Eropa adalah seorang orientalis Thomas Erpenius[11](1584-1613 M). Ia adalah orang pertama yang memberikan pengajaran bahasa Arab di Universitas Leiden pada tahun 1613 M. Melalui jerih payahnya dan ditunjang dengan tulisan-tulisan tentang bahasa Arab ia telah menempatkan Belanda sebagai tempat/ sumber pengajaran bahasa Arab di Eropa selama kurang lebih dua abad.
          Sungguhpun ia mengakui bahwa al-Qur’an memiliki nilai yang tinggi dalam segi bahasanya, namun ia tidak mempunyai keyakinan bahwa sebenarnya al-Qur’an mengandung banyak hal yang menyangkut kehidupan dunia dan akhirat, ia bahkan berpendapat bahwa mereka yang mengamalkan ajaran-ajaran al-Qur’an tidak lebih daripada taqlid yang menggelikan kepada kitab suci. Sedangkan sikap dan pandangannya terhadap Nabi Muhammad Saw dan ajaran yang dibawanya tidak ubahnya seperti pendapat kebanyakan orang orientalis yang lain di Eropa yaitu memusuhi dan antipati.[12]

B.     Studi Islam
      Walaupun kita mengetahui tujuan kristenisasi yang jelas-jelas bersikap memusuhi Islam, tetapi di akhir abad ke-17 sampai abad ke-18 dari pihak lain kita melihat kecenderungan yang berbeda mengenai apa yang dilakukan oleh kaum orientalis pada umumnya. Kelompok ini memandang Islam  dengan pandangan yang obyektif dan ada kecenderungan untuk condong kepada Islam. Kondisi demikian telah memberikan dorongan bagi timbulnya suatu pergolakan pemikiran yang baru di Eropa pada waktu itu, di mana pada umunya mereka tidak sejalan dengan kebijaksanaan gereja.
       Orang orientalis yang termasuk dalam kelompok ini adalah Richard Simon, dalam bukunya “Sejarah kritik terhadap keyakinan dan adat istiadat bangsa-bangsa Timur”(tahun 1684); ia menulis dalam buku itu mengenai  tradisi dan agama kaum muslimin secara jujur dan berimbang. Selanjutnya ia memberikan respek dan menunjukkan kekagumannya terhadap tradisi-tradisi Islam. Terhadap sikap Simon ini, Arnould menuduhnya sebagai berlebih-lebihan dalam keobyektivitasannya terhadap Islam. Selanjutnya Simon menganjurkan Arnould agar mau mencermati ajaran akhlaq mulia kaum muslimin.
        Demikian juga Filosuf Pierre Bayle, ia adalah seorang yang mengagumi toleransi yang dimiliki Islam. Sikap ini nampak pada tulisannya tentang kehidupan Muhammad Saw dalam kamus tarikh dan kritik yang terbit untuk pertama kalinya di Rotterdam pada tahun 1697 M. Sedangkan Simon Ockley (1678-1720 M) dalam bukunya “Sejarah Arab Muslim”, ia menulis dengan jujur dan tidak berat sebelah. Ia memuji Timur dan Islam serta mengangkatnya/ memujinya melebihi Barat.[13]
        Contoh-contoh tadi merupakan peralihan perlahan-perlahan ke arah pandangan baru yang benar mengenai Islam. Adapun usaha sungguh-sungguh yang pertama dilakukan untuk memperkenalkan Islam adalah oleh Andrianus Relandus[14](wafat 1718 M), seorang guru besar bahasa-bahasa Timur di Universitas Utrech Belanda. Ia telah menerbitkan sebuah buku dalam bahasa Latin tentang Islam yang berjudul “Agama Muhammad” dalam dua jilid. Pada jilid pertama ia mengemukakan tentang aqidah Islamiah yang referensinya dari sumber buku Latin dan Arab. Sedangkan pada jilid yang kedua ia berupaya meluruskan pandangan-pamdangan Barat tentang Islam.
              Buku tersebut kemudian mendapatkan tanggapan yang negatif dari pihak gereja, dan menuduhnya sebagai ikut berperan dalam kegiatan dakwah Islam. Akhirnya gereja mengelompokkan buku tersebut sebagai buku-buku terlarang, tetapi anehnya buku tersebut kemudian masih diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Belanda dan Spanyol[15].
              Pada abad ke-18 M, dunia orientalisme Jerman juga menyaksikan contoh-contoh lain yang serupa di antaranya adalah J.J. Reiske(1716-1773 M). Ia adalah seorang cendekiawan ahli bahasa Arab pada masanya, ia juga dikenal sebagai orientalis Jerman yang pertama; ia mendapat tempat terhormat dan menonjol dalam bidang pengajaran bahasa Arab di Jerman.
             Tetapi zaman dan teman-teman sejawatnya bersikap apatis kepadanya. Sejumlah cendekiawan Kristen menyerang dan menuduhnya sebagai munafiq; mungkin karena sikapnya yang positif terhadap Islam. Ia memuji  Islam dalam bukunya yang ditulis dalam bahasa Latin. Ia menolak mengidentikkan Nabi Saw dengan kebohongan dan kesesatan, atau menolak pemberian sifat agama khurafat dan menggelikan kepada Islam, sebagaimana yang banyak dilakukan orang pada waktu itu. Ia juga dengan tegas menolak pembagian sejarah dunia menjadi sejarah suci dan sejarah yang bukan suci, yang meletakkan sejarah Islam pada jantung sejarah dunia. Lebih dari itu ia telah mengungkapkan pendapatnya dengan jelas dan terang-terangan tanpa memikirkan akibat yang akan dihadapinya. Ia menghadapi cobaan-cobaan itu, sepanjang hidupnya dilalui dengan kondisi ekonominya yang memprihatinkan. Ia wafat setelah sengsara menghadapi penyakit paru-paru pada usia 58 tahun. Fueck berkomentar tentang dia:
              “Reiske telah menjadi syahid sastra Arab; hidupnya menjadi sejarah dari kepedihan yang diabadikan dalam buku hariannya.......sungguh suatu hal memalukan bahwa seorang yang sangat menonjol pada masanya tidak dikenali potensi luar biasa yang dimiliki Reiske yang menjadi salah seorang ahli dalam bahasa Arab”.[16]
       
         Apa yang dilakukan oleh sebagian orientalis yang cenderung obyektif dan terkadang malah memuji Islam tersebut memang dapat meringankan beban dan tuduhan yang dilontarkan oleh cendekiawan Kristen kepada Islam, tetapi usaha-usaha yang positif tersebut masih belum bisa mempengaruhi pikiran-pikiran kebanyakan orang Eropa yang sudah terlanjur membenci Islam. Begitulah gambaran negatif yang telah melekat di hati orang-orang Eropa sebagai warisan dari abad pertengahan, yang terkadang masih bermunculan hingga hari ini. Ada ungkapan Maxim Rodinson yang cukup menggembirakan terhadap Islam, sebagai berikut:
“......Sesungguhnya di abad kedelapan belas kaum Kristen memandang Timur Islam dengan pandangan persaudaraan yang penuh pengertian. Pemikiran yang mengatakan bahwa pemberian akal yang sama kepada segenap manusialah yang telah membantu penyebarannya semakin kuat dan kokoh; itulah dia agama yang hakiki pada masa itu. Semakin terbuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengadakan kritik terhadap tuduhan yang dilemparkan kepada dunia Islam pada abad-abad yang lalu.....dan pada abad kejayaan kaum muslimin baru dianggap seperti manusia yang lain, malahan ada di antara mereka yang mengungguli bangsa Eropa”.[17]
                    
              Kalau kita menerima apa yang dikatakan Rodinson tentang ini, maka sebenarnya dia sendiri tidak memungkiri bahwa pandangan yang diungkapkannya itu selanjutnya beralih menjadi pandangan/sikap yang lebih buruk dari sebelumnya; Ia berkata:
               “Pada abad kesembilan belas ini, Timur Islam tetap merupakan musuh bahkan ia adalah musuh yang sudah dinyatakan kalah. Dunia Timur menyerupai panorama indah yang sudah binasa. Waktu itu seseorang dapat menikmati kemegahan yang mereka puji di saat kaum politikus dan usahawan berbuat segala sesuatu yang dalam wewenangnya untuk mempercepat proses kehancurannya. Di masa datang mereka tidak mungkin menunjukkan  semangat, malahan dalam operasionalnya (pembaharuannya itu), mereka kehilangan bau aneh yang dulu mereka dambakan”.[18]

         Demikianlah pandangan bangsa Eropa sebelumnya, yang dikumandangkan lewat ideologi internasional pada zamannya, yaitu menghormati bangsa selain Eropa dan menghargai peradaban mereka. Namun setelah itu yaitu pada abad ke-19 keadaan sudah berubah, pandangannya menjadi sombong dan congkak, disusul kemudian dengan munculnya teori-teori yang membagi manusia kepada dua jenis, yaitu yang maju dan yang terbelakang; Yang pertama yakni yang maju adalah bangsa Ariyah, sedangkan yang kedua yang terbelakang adalah bangsa Samiyah (Smit). Para orientalis dan pemikir-pemikir Eropa yang berjalan menurut metodanya (dengan keterangan yang mereka katakan) bahwa ciri-ciri khas bangsa Ariyah adalah mereka itu orang-orang yang menciptakan peradaban dan datang dengan segala yang baru, sedangkan bangsa Samiyah adalah mereka yang dangkal pemikiran dan falsafahnya.[19]
         Demikian sekilas mengenai bagaimana sejarah orang Barat terutama dari kalangan juru dakwah Kristen dan para orientalis menekuni kajian bahasa Arab dan agama Islam.  Dari telaah tersebut dapat difahami betapa tidak mudahnya membedakan antara gerakan orientalisme dengan Kristenisasi. Di sini motivasi agama (termasuk kristenisasi) sangat dominan dalam menggerakkan orientalisme. Sungguhpun ada beberapa kelompok orientalis yang secara jujur mengagumi bahasa dan sastra Arab serta ajaran Islam, tetapi arus besar masih menunjukkan yang kebalikannya. Paling tidak hal ini dapat dibaca perjalanan sejarahnya hingga abad ke-19.

Dinukil dari buku Pandangan Orientalis Barat tentang Islam, 
karya Achmad Zuhdi Dh




[1] Baca Assamurai, Bukti-Bukti, 67.
[2] Zaqzuq, al-Istishraq, 35.
[3] Assamurai mencatat bahwa Raymond Lull berasal dari Majore, kelahiran kota Palma tahun 1233 M (633 H).Ada yang berkomentar bahwa pada diri Raymond Lull terdapat obyek yang sangat membingungkan. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang suci sementara yang lain menganggapnya zindiq. Sebagian orang menganggapnya sangat alim tetapi yang lainnya menganggapnya tolol. Sebagian menganggapnya penerima ilham, namun yang lainnya menganggapnya sebagai orang linglung. Baca Assamurai, Bukti-Bukti, 119.
[4] Rudi Paret, Al-Dirasat al-Islamiah wa al-‘Arabiyah Fi al-Jami’at al-Almaniyah, terj. Mustafa Mahir (Kairo: tp, 1967),9. Baca juga Zaqauq, al-Istishraq, 35.
[5] Ibid., 36.
[6] Guillaume Postel adalah orientalis Perancis lahir di Dolerie, Timur Laut Perancis pada tahun 1510 dan meninggal pada tahun 1581 di Perancis. Di antara sumbangan Postel yang paling menonjol dalam kajian orientalis adalah kesuksesannya dalam mengoleksi naskah-naskah Timur, seperti naskah Tarikh Abi al-Fida, tulisan-tulisan Yohanna al-Dimashqi dan terjemahan Suryani versi baru kitab suci. Levy de Lavida menjelaskan bahwa sebagian dari naskah-naskahnya tersimpan di perpustakaan Vatikan. Abdurrahman Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, terj. Amroeni Drajat (Yogjakarta: LKIS, 2003),  100.
[7] Joseph Scaliger adalah orientalis Perancis yang ahli filologi klassik. Ia lahir pada 4 Agustus 1540 di Agen, Barat Daya Perancis dan meninggal pada 21 Januari 1609. Ia memperdalam bahasa Yunani, Latin, Ibrani, Arab, Suryani, Persia dan sejumlah bahasa Eropa Modern. Dia yang mengidentifikasi bahwa yang dimaksud dengan Dzul Qarnain dalam surat al-Kahfi adalah Iskandar Agung. Dalam kitabnya ia banyak mencantumkan teks-teks Arab yang berhubungan dengan sistem penanggalan, seperti penanggalan yang berlaku pada gereja-gereja Timur, gereja Antaqiyah, Habshiyah, dan gereja Qibtiyah, dengan disertai nama-nama binatang pada setiap zodiaknya dalam bahasa Arab. Ibid., 16-18.
[8]Ibid., 37.
[9] Edward Said, Orientalism, 81. Baca juga Zaqzuq, al-Istishraq, 37.
[10]Ibid., 38.
[11] Thomas Erpenius adalah seorang orientalis Belanda yang dalam bahasa Belanda dikenal dengan nama Van Erpe. Ia lahir tanggal 11 September 1584 di Gorkum, Belanda dan meninggal pada tahun 1624, dalam usia 40 tahun. Badawi, Ensiklopedi, 6.
[12] Zaqzuq, al-Istishraq, 39.
[13] Ibid., 41.
[14] Andrianus Relandus atau yang juga disebut Reeland adalah orientalis Belanda yang wafat pada tahun 1718 M.  Ia dipandang sebagai orientalis Eropa pertama yang berusaha keras membersihkan Islam dari prasangka buruk yang tertanam di benak pembaca Eropa yang bersumber dari buku Eropa yang menyebarkan pemahaman salah terhadap Islam, terutama yang ditulis oleh tokoh-tokoh agama Kristen. Relandus memberi contoh salah seorang cendekiawan Kristen yang berada di bawah pengiuasa Islam adalah Johann al-Dimasgqi. Badawi, Ensiklopedi, 227.
[15] Zaqzuq, al-Istishraq, 41.
[16] Johan Fueck, Die Arabischen Studien in Eropa (Leipzig, 1955), 108 sebagaimana dikutip oleh Zaqzuq dalam al-Istishraq, 44,
[17] Ibid., 45.
[18] Ibid., 46.
[19] Mustafa Abd al-Razzaq, Tamhid Li Tarikh al-Falsafah al-Islamiah (Kairo, 1966), 9. Baca juga Zaqzuq, al-Istishraq, 47.