Rabu, 25 April 2018

LGBT DALAM SOROTAN ISLAM


LGBT DALAM SOROTAN ISLAM


Oleh:



Dr.H. Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I

Pertanyaan:
Assalamu'alaikum Wr.Wb.!
Ustadz Zuhdi yang dirahmati Allah!
Akhir-akhir ini saya sering melihat televisi yang menayangkan berita LGBT.  Sebagai remaja muslim, saya sangat penasaran dan ingin tahu lebih jauh apa sebenarnya LGBT itu, bagaimana menurut Islam, dan apa kiat-kiat yang bisa dilakukan, agar para remaja tidak mudah terbawa pada arus kehidupan LGBT? Syukran atas jawabannya (Abdullah, Candi-Sidoarjo).
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.!
Jawaban:

Pengertian LGBT

            LGBT adalah kepanjangan dari Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama perempuan, atau disebut juga perempuan yang mencintai perempuan baik secaraa fisik, seksual, emosional atau spiritual. Gay adalah istilah bagi laki-laki yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama laki-laki atau disebut juga laki-laki yang mencintai laki-laki baik secaraa fisik, seksual, emosional atau spiritual.  Biseksual adalah orientasi seks yang mempunyai ciri-ciri berupa ketertarikan estetis, cinta romantis, dan hasrat seksual kepada pria dan wanita.  Transgender adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang melakukan, merasa, berpikir atau terlihat berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat mereka lahir. "Transgender" tidak menunjukkan bentuk spesifik apapun dari orientasi seksual orangnya. (https://id.wikipedia.org/wiki).

Dalam kajian Islam, ada dua istilah yang masuk dalam prilaku LGBT,  yaitu al-Liwath (اللواط: gay) dan al-Sihaaq (السحاق: lesbian). Liwath (gay) adalah perbuatan yang dilakukan oleh laki-laki dengan cara memasukan dzakar (penis)nya kedalam dubur laki-laki lain. Disebut dengan Liwath karena mereka melakukan perbuatan seperti kaumnya Nabi Luth AS(Mu’jam Lughat al-Fuqaha,I/394).  Keterangan ini sejalan dengan firman Allah  dalam al-Quran:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ 
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al ‘Araf: 80-81).

Sedangkan al-Sihaaq(lesbian) adalah hubungan cinta birahi antara sesama wanita dengan image dua orang wanita saling menggesek-gesekkan anggota tubuh (farji’)nya antara satu dengan yang lainnya, hingga keduanya merasakan kelezatan dalam berhubungan tersebut (Abu al-Mundzir, Mukhtashar al-Qandil Fi Fiqh al-Dalil, I/25).

Hukum LGBT
Terhadap pelaku homoseks (gay dan lesbian), Allah SWT dan Rasulullah SAW benar-benar melaknat perbuatan tersebut. Hal ini ditunjukkan bagaimana Allah SWT menghukum kaum Nabi Luth yang melakukan penyimpangan dengan azab yang sangat besar dan dahsyat, yakni membalikkan tanah tempat tinggal mereka, dan diakhiri hujanan batu yang membumihanguskan mereka, sebagaimana Firman Allah Swt:
فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيل.
“Maka kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras”(QS. Al-Hijr, 74).
            Selanjutnya, Rasulullah Saw juga melaknat orang-orang yang melakukan perbuatan seperti perbuatan kaum Nabi Luth AS (pelaku homoseks). Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَعَنَ اللهُ من عمِلَ عَمَلَ قومِ لُوطٍ، لَعَنَ اللهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قوْمِ لوطٍ، لعَنَ اللهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قومِ لوطٍ .  
 “Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth, Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth” (HR. Ahmad No. 2913,  Al-Nasa-I No. 7337, Al Hakim No. 8052, Al Baihaqi No. 5337). 
            Muhammad Nashiruddin Al-Albani menilai hadis tersebut shahih (al-Silsilah al-Shahihah Mukhtasharah,X/5).
Hukum Sihaaq (lesbian) sama dengan liwath (gay), yakni haram sesuai kesepakatan ulama (sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, II/436). Hal ini berdasarkan  hadits dari Abu Said Al Khudriy bahwa Rasulullah SAW berkata:
لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ
“Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain, dan jangan pula seorang wanita melihat aurat wanita lain. Dan janganlah seorang laki-laki memakai satu selimut dengan laki-laki lain, dan jangan pula seorang wanita memakai satu selimut dengan wanita lain”(HR. Muslim No.338, Al-Tirmidzi No. 2793), dan Abu Dawud No.  4018).

Secarah fitrah, manusia diciptakan oleh Allah SWT berikut dengan dorongan naluri dan jasmaninya. Salah satu dorongan naluri manusia adalah naluri untuk melestarikan keturunan yang di antara manifestasinya merupakan rasa cinta dan dorongan seksual antara lawan jenisnya. Dari sini, Allah menurunkan syariat pernikahan (النكاح) untuk melegalkan terpenuhinya dorongan hubungan seksual kepada lain jenisnya.
Bila hukum Allah yang berupa pernikahan ini tidak diindahkan atau tidak dipatuhi, kemudian secara bebas malah berperilaku LGBT, maka akan berdampak negatif dan berbahaya bagi kehidupannya.

Bahaya bagi pelaku LGBT:
Pelaku LGBT akan sangat rentan terkena virus seperti HIV, sifilis, hepatitis, dan infeksi Chlamydia. Selain itu, bisa menimbulkan resiko terjadinya luka dan pembengkakan pada sistem pembuangan, di mana lubang anal yang seharusnya digunakan sebagai pembuangan kotoran, digunakan sebagai pelampiasan hawa nafsu seksual, sehingga berakibat sangat mengerikan, yaitu bisa terluka dan terinfeksi, dan  lebih buruk lagi timbulnya nanah. Selain itu, akibat kelakukan LGBT ini menimbulkan perubahan perilaku pada pelakunya, di mana akan cenderung mengakibatkan hal negatif pada sistem syaraf, serta penurunan pada kemampuan kerja sistem otak (http://tips47.blogspot.com/2016/03).
Cara mencegah LGBT
Untuk mencegah anak atau remaja dari bahaya propaganda LGBT, berikut beberapa hal yang perlu diketahui orang tua:

Pertama, Orangtua hendaknya memberitahu tentang keburukan yang ditimbulkan dari LGBT kepada anak, sebelum nantinya anak tahu mengenai LGBT dari pihak aktivitis yang mengkampanyekan perilaku keji ini.
Keduaa, Orang tua hendaknya dapat berperan sebagai teman yang baik, sehingga anak dapat terbuka dengan orang tua mengenai keadaan dirinya.
Ketiga, Orang tua perlu punya sikap yang jelas untuk menentang hubungan sesama jenis yang keji. Orang tua dapat memberikan alasannya dari berbagai aspek, baik dari segi agama, kehidupan sosial, hubungan seksual yang secara biologis, dan kesehatan.
Keempat, Apabila orang tua sudah melihat tanda-tanda perilaku LGBT pada diri anak, maka memarahi, mencela dan menjauhi si anak adalah hal yang tidak tepat untuk dilakukan. Yang perlu dilakukan orang tua adalah berfikir untuk mencari solusi dan bisa juga berkonsultasi dengan ahlinya dalam penanganan kasus LGBT, sehingga orang tua dapat memberikan penanggulangan secara tepat.
Selain itu, untuk mencegak mewabahnya LGBT secara massal bagi remaja muslim,  perlu sekali menghindari pergaulan bebas, menutup segala celah pornografi, mengadakan kajian atau seminar tentang bahaya LGBT,  mengintensifkan  peran media massa dan pemerintah, para tokoh, ulama dan ahli pendidikan, dalam mengantisipasi bahaya LGBT.
Semoga para anak dan remaja kita, selamat dari bahaya prilaku LGBT !


Minggu, 08 April 2018

Penjagaan yang menipu oleh bangsa jin


Setelah dua hari ber ikhtiar meruqyah satu keluarga yang terindikasi terkena gangguan sihir, yang justru jin tersebut berteriak-teriak mengatakan mereka ada karena diminta jadi penjaga, dan jin tersebut merasa punya hak untuk "berbaut apa saja" termasuk menjinahi manusia yang di minta di jaganya oleh tukang sihir. naudzubillah!. hal tersebut pengakuan manusia yang dizaliminya dan mengaku pernah dizinahinya dalam keadaan "setengah sadar", juga ada jin yang mengakui perbuatannya, berbicara dari salahsatu keluarganya yang reaksi. (saya tidak mempercayai bualan jin, hanya untuk bahan mempermudah penyampaian kepada kita semua, supaya menghindari ikhtiar-ikhtiar sejenis). Allohu A'lam.

Padahal "Hisnul Mu'min" (penjagaan bagi seorang mu'min) yang disebutkan Rosul Sollallohu alaihi wasallam, adalah berupa amal sholeh yang di ikhlaskan hanya kepada Alloh, sehingga Alloh-Ajja wajala lah yang menjaganya. bukanlah rajah-rajah, isim-isim, wifiq, dan semua bentuk "tamimah" dan benda-benda pegundang Jin seperti sesembahan untuk jin mulai sekecil rambut, telur dan sesajen sejenis, bukanpula wirid-wirid yang dilayani khadam. karena khadam (jin pelayan) pun tidak ada pelayanan gratis kepada tuannya. mereka bisa mengambil apapun dari yang dilayaninya.

Allah Subhanahu Wataala berfirman dalam surat Jin ayat 6:

وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٞ مِّنَ ٱلۡإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٖ مِّنَ ٱلۡجِنِّ فَزَادُوهُمۡ رَهَقٗا ٦

"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan" (QS. Al-Jinn: 6)

Semua manusia itu lapar, kecuali yang diberi makan oleh Alloh, Semua manusia itu telanjang kecuali yang diberi pakaian oleh Alloh, -(Ibnu Hajar Al-Asqolani)- begitu pula semua manusia itu tidak selamat, kecuali yang di selamatkan Alloh, maka kita hanya butuh penjagaan dari Alloh Jalla Wa Ajja.

Bersihkan dari semua "bungkus berbau syirik", yang disengaja disadari atau tidak disadari karena kebodohan nafsu dan bisikan syetan.

Semoga Alloh Ajja wajala senantiasa menjaga kita semua. aamiin.


Ciwatin - Cikatomas: 9 April 2018 - Abu Adam

Minggu, 11 Maret 2018

SHALAT MALAM (TARAWIH DAN WITIR): Varian Jumlah Rakaat dan Tatacaranya


SHALAT MALAM (TARAWIH DAN WITIR)
(Varian Jumlah Rakaat dan Tatacaranya)


Oleh:


Dr.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I
  

Pengertian:

Tarawih atau al-Tarawih adalah bentuk jamak dari kata tarwihah, yang berarti istirahat atau santai (Mu’jam Lughat al-Fuqaha, I/127). Secara bahasa, tarwihah berarti jalsah (duduk), yakni  duduk pada bulan Ramadhan setelah selesai shalat malam 4 rakaat, karena dengan duduk itu orang-orang bisa beristirahat setelah lama melaksanakan qiyam Ramadhan.[1]Ibn Mazdzur menjelaskan bahwa disebut dengan shalat tarawih karena mereka beristirahat tiap-tiap di antara dua kali salam.[2]
Shalat tarawih adalah shalat sunnah yang dilakukan khusus pada bulan Ramadhan, waktunya setelah shalat isya. Nabi Saw biasa mengamalkannya sebanyak 11 rakaat atau 13 rakaat dengan waktu yang lama. Pada masa Umar bin Khaththab, Ubay bin Ka’b diperintahkan untuk mengimaminya sebanyak 20 rakaat selain witir dengan bacaan yang agak ringan. Selanjutnya ada yang mengamalkannya sebanyak 36 rakaat selain witir dengan bacaan yang lebih ringan, dan bahkan ada yang mengamalkannya sebanyak 40 rakaat selain witir.[3]
Sedangkan shalat Witir adalah shalat yang jumlah rakaatnya ganjil, minimal 1 rakaat dan maksimal 11 rakaat.[4]Waktu pelaksanaannya adalah setelah shalat isya, boleh sebelum tidur atau sesudah tidur.
Jumlah rakaat Shalat Malam (Tarawih dan Witir) pada masa Nabi Saw dan Tatacaranya
Berdasarkan beberapa hadis, jumlah rakaat shalat malam atau shalat tahajud atau shalat tarawih dan witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah lebih dari 11 atau 13 rakaat. Berikut ini rinciannya:
A.     Shalat Malam (Tarawih dan Witir) sebanyak 13 rakaat dengan rincian sebagai berikut:
  1. Shalat iftitah 2 rakaat yang ringan sebagai pembuka shalat malamnya;
  2. Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang sangat panjang.
  3. Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan tiap rakaat yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya;
  4. Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan tiap rakaat yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya;
  5. Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan tiap rakaat yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya;
  6. Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan tiap rakaat yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya;
  7. Kemudian shalat witir 1 rakaat.
Cara ini berdasarkan hadis riwayat Muslim berikut ini:
عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِىِّ أَنَّهُ قَالَ لأَرْمُقَنَّ صَلاَةَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اللَّيْلَةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً.
Dari Zaid bin Kholid al-Juhani, beliau berkata: “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam, maka beliau memulai dengan shalat 2 rakaat yang ringan, kemudian beliau shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang sekali, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat witir (1 rakaat), semuanya 13 rakaat.”.[5]
B.     Shalat Malam (Tarawih dan Witir) sebanyak 13 rakaat dengan rincian sebagai berikut:

1.      Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.
  1. Kemudian melakukan shalat witir langsung 5 rakaat sekali salam.
Cara ini berdasarkan hadis riwayat Ahmad berikut ini:
أَنَّ عَائِشَةَ، حَدَّثَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْقُدُ، فَإِذَا اسْتَيْقَظَ تَسَوَّكَ، ثُمَّ تَوَضَّأَ، ثُمَّ صَلَّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ، يَجْلِسُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ فَيُسَلِّمُ، ثُمَّ يُوتِرُ بِخَمْسِ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ إِلَّا فِي الْخَامِسَةِ، وَلَا يُسَلِّمُ إِلَّا فِي الْخَامِسَةِ
Aisyah ra. berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan tidur malam, maka apabila beliau bangun dari tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Setelah itu beliau shalat delapan rakaat dengan duduk dan bersalam setiap 2 rakaat, kemudian beliau melakukan shalat witir lima rakaat yang tidak melakukan duduk dan salam kecuali pada rakaat yang kelima”.[6]Menurut al-Albani, hadis ini shahih menurut syarat al-shahihayn.[7]
C.      Shalat Malam (Tarawih dan Witir) 11 rakaat dengan rincian sebagai berikut:

1.      Melakukan shalat 10 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.
2.      Kemudian melakukan shalat witir 1 rakaat.
Cara ini berdasarkan hadis riwayat Muslim berikut ini
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يُصَلىِّ فِيْمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ – وَ هِيَ الَّتِي يَدْعُوْ النَّاسُ الْعَتَمَةَ – إِلىَ الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلَّمُ بَيْنَ كُلّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ
“Rasulullah Saw melakukan shalat (malam atau tarawih) setelah shalat Isya’-manusia menyebutnya shalat ‘atamah- hingga fajar sebanyak 11 rakaat. Beliau melakukan salam setiap dua rakaat dan beliau berwitir satu rakaat.”.[8]
D.     Shalat Malam (Tarawih dan Witir) 11 rakaat dengan rincian sebagai berikut:

1.      Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 4 rakaat;
2.      Kemudian shalat witir langsung 3 rakaat dengan sekali salam.
Cara ini berdasarkan hadis berikut ini:
عَنْ أَبِى سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا
Abu Salamah bin Abd al-Rahman pernah bertanya kepada Aisyah ra tentang bagaimana cara Rasulullah Sawa shalat di bulan Ramadhan, maka Aisyah menjawab: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan selain Ramadhan dari 11 Rakaat. Beliau shalat 4 rakaat sekali salam maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat 4 rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir 3 rakaat”.[9]
E.      Shalat Malam (Tarawih dan Witir) 11 rakaat dengan rincian sebagai berikut:

1.      Melakukan shalat langsung sembilan rakaat, dengan cara setelah 8 rakaat duduk dulu tanpa salam, kemudian berdiri 1 rakaat lagi kemudian duduk dan salam.
2.      Kemudian shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk.
Cara ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Asyah ra, beliau berkata:
كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيهَا إِلاَّ فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً (رواه مسلم(
“Kami dahulu biasa menyiapkan siwak dan air wudhu untuk Rasulullah Saw, maka atas kehendak Allah beliau selalu bangun malam hari, lantas beliau  langsung bersiwak kemudian berwudhu. Selanjutnya beliau melakukan shalat malam 9 rakaat, beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan (tasyahud awal) lantas berdzikir kepada Allah dan memujiNya serta berdoa tanpa salam, kemudian bangkit berdiri untuk rakaat yang kesembilan, kemudian duduk(tasyahud akhir) lantas berdzikir kepada Allah dan memujiNya serta berdoa terus mengucapkan salam dengan suara yang terdengar oleh kami. Kemudian beliau melakukan shalat lagi 2 rakaat dalam keadaan duduk. Semuanya 11 rakaat”.[10]
F.      Shalat Malam (Tarawih dan Witir) 9 rakaat dengan rincian sebagai berikut:
  1. Melakukan shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang baik dalam berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
  2. Setelah bangun kemudian shalat 2 rakaat lagi dengan bacaan yang panjang baik ketika berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
  3. Setelah bangun kemudian shalat 2 rakaat lagi dengan bacaan yang panjang baik ketika berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
  4. Setelah bangun shalat witir 3 rakaat.
Cara ini berdasarkan hadis dari Ibn ‘Abbas ra, beliau berkata: Rasulullah Saw bangun dari tidur malam, kemudian bersiwak, berwudhu, lalu membaca al-Qur’an surat Ali Imran ayat 190-200, kemudian:
قَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَأَطَالَ فِيهِمَا الْقِيَامَ وَالرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَامَ حَتَّى نَفَخَ ثُمَّ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ سِتَّ رَكَعَاتٍ كُلَّ ذَلِكَ يَسْتَاكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيَقْرَأُ هَؤُلاَءِ الآيَاتِ ثُمَّ أَوْتَرَ بِثَلاَثٍ
 “Beliau (Rasulullah Saw) berdiri melakukan shalat 2 rakaat dengan cara  memanjangkan (memperlama saat) berdiri, rukuk dan sujudnya, kemudian setelah selesai, beliau tidur sampai mendengkur. Kemudian beliau mengulangi hal tersebut sampai 3 kali sehingga semuanya berjumlah 6 rakaat, setiap kali hendak melakukan shalat, beliau bersiwak, kemudian berwudhu, terus membaca al-Qur’an surat Ali Imran ayat 190-200 kemudian berwitir 3 rakaat”.[11]
G.   Shalat Malam (Tarawih dan Witir) 9 rakaat dengan rincian sebagai berikut:
  1. Melakukan shalat langsung 7 rakaat dengan duduk tasyahud awal pada rakaat keenam kemudian berdiri lagi tambah satu rakaat lalu duduk akhir dan salam. 
  2. Kemudian shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk.
Cara ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah:
قَالَتْ عَائِشَةُ : فَلَمَّا أَسَنَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَحَمَلَ اللَّحْمَ صَلَّى سَبْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ إِلاَّ فِى السَّادِسَةِ ، فَيَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو رَبَّهُ ، ثُمَّ يَقُومُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَجْلِسُ فِى السَّابِعَةِ ، فَيَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو رَبَّهُ ، ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً يُسْمِعُنَا ، ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ ، فَتِلْكَ تِسْع
Aisyah ra berkata: “Maka tatkala Rasulullah Saw sudah tua dan mulai kurus maka beliau melakukan shalat malam  sebanyak 7 rakaat, beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang keenam, kemudian beliau memuji Allah dan berdoa kepadaNya tanpa salam, kemudian beliau berdiri lagi lalu duduk pada rakaat yang ketujuh, memuji Allah dan berdoa kepadaNya, lalu mengucapkan salam yang terdengar oleh kami. Kemudian beiau melakukan lagi shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk. Semuanya 9 rakaat.[12]
Kesimpulan:
1.   Nabi Saw biasa shalat malam, baik di dalam maupun di luar Ramadhan sebanyak 11 rakaat; Dalam kondisi tententu, Nabi Saw pernah shalat malam sebanyak 13 rakaat, dan juga pernah 9 rakaat;
2.  Ada dua cara saat Nabi Saw shalat malam dalam jumlah 13 rakaat. Pertama,  dengan cara 2+2+2+2+2+2+1 dan  kedua, dengan cara 2+2+2+2+5;
3.  Ada tiga cara saat Nabi Saw shalat malam dalam jumlah 11 rakaat. Pertama, dengan cara 2+2+2+2+2+1; kedua, dengan cara 4+4+3; dan ketiga, dengan cara 9 (sembilan rakaat diselingi duduk pada rakaat ke-8 lalu berdiri 1 rakaat lagi) +2.
4.   Ada dua cara saat Nabi Saw shalat malam dalam jumlah 9 rakaat. Pertama, dengan cara 2+2+2+3; dan kedua, dengan cara 7 (tujuh rakaat diselingi duduk pada rakaat ke-6 lalu berdiri 1 rakaat lagi) +2.
5.  Dalam suatu kesempatan, Nabi Saw mengawali shalat malamnya dengan shalat iftitah(dua rakaat ringan), dan pada kesempatan lain, tidak. Sebagian ulama berpendapat, apabila shalat malamnya dilakukan langsung setelah selesai shalat isya, tidak perlu shalat iftitah.[13]Sementara ulama yang lain masih membolehkannya, karena tidak ada nas yang membatasinya.
6.   Saat shalat witir yang 9 rakaat, Nabi melakukan duduk (tasyahud awal) pada rakaat yang ke 8 kemudian berdiri lagi satu rakaat lalu duduk akhir dan salam ; sedangkan saat shalat witir yang 7 rakaat, beliau duduk (tasyahud awal) pada rakaat yang ke-6 kemudian berdiri lagi satu rakaat lalu duduk akhir dan salam.
7.   Bila shalat witir tiga atau lima rakaat, beliau duduk pada rakaat terakhir dan langsung salam, tanpa duduk(tasyahud) awal. Sebagian ulama berpendapat untuk shalat witir yang tiga rakaat bisa dengan cara 2+1, merujuk kepada hadis (atsar) Ibn Umar ra.[14]
8.    Sahalat witir bisa didulukan dari shalat yang genap, namun mengakhirkan witir dari shalat malam itu lebih baik.[15]
9.    Wallahu A’lam bi al-shawab !



[1] Ibrahim mushthafa et.al, al-Mu’jam al-Wasith, I/380
[2] Ibn Mandzur, Lisan al-‘Arab, II/455
[3] Ibn Taymiyah, al-Fatawa al-Kubra, II/254.
[4] Wahbah al-Zhayli, al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuhu, II/181
[5] HR. Muslim No. 1840)
[6] HR. Ahmad No. 24921
[7] al-Albani, Shalat al-Tarawih, I/102
[8] HR. Muslim No.1752
[9] HR. al-Bukhari No. 3376 dan Muslim No.1757.
[10] HR. Muslim No. 1773.
[11] HR. Muslim No. 1835.
[12] HR. Muslim No. 1773; Al-Bayhaqi No. 5006
[13]Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan:
افتتاح القيام الذي هو التراويح بركعتين خفيفتين غير صحيح؛ لأن افتتاح قيام الليل بركعتين خفيفتين إنما يكون لمن نام، ووجه ذلك: أن الإنسان إذا نام عقد الشيطان على قافيته ثلاث عقد، فإذا قام وذكر الله انحلت عقدة، فإذا تطهر انحلت العقدة الثانية، فإذا صلى انحلت العقدة الثالثة، ولهذا صار الأفضل لمن قام الليل بعد النوم أن يفتتح قيام الليل بركعتين خفيفتين ثبتت بذلك السنة من قول النبي صلى الله عليه وآله وسلم وفعله، أما التراويح فإنها تفعل قبل النوم فلا تفتتح بركعتين خفيفتين.
Membuka shalat malam (shalat tarawih) dengan dua rakaat ringan itu tidak tepat, karena membuka shalat malam dengan dua rakaat ringan itu hanya bagi yang sudah tidur. Alasannya, apabila manusia tidur, maka setan memasang  tiga ikatan pada tengkuknya.Jika orang tersebut bangun dan berdzikir mengingat Allah maka lepaslah satu ikatan. Jika dia berwudhu maka lepaslah ikatan yang kedua. Jika dia mengerjakan shalat maka lepaslah ikatan ketiga(HR. Bukhari, no. 1142 dan Muslim, no. 776). Karena itu maka diutamakan bagi yang shalat malam setelah tidur membukanya dengan shalat dua rakaat ringan sesuai dengan Sunnah Nabi Saw, baik ucapan dan perbuatan beliau. Adapun shalat tarawih, karena dilakukan sebelum tidur maka tdak perlu dibuka dengan shalat iftitah, dua rakaat ringan (al-‘Utsaimin, al-Liqa’ al-Syahri, VIII/24).

[14]Ibn Rajab menerangkan bahwa Ibn Umar pernah shalat witir 3 rakaat dengan cara memisahkan 2+1 (al-Bukhari No.991,   أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُسَلِّمُ بَيْنَ الرَّكْعَةِ وَالرَّكْعَتَيْنِ فِى الْوِتْرِ). Hal ini merupakan hasil penafsiran Ibn Umar terhadap hadis ((al-Bukhari No.993))yang dikatakan Nabi Saw bahwa shalat malam itu dua dua(صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى). Ibn Rajab, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari,VII/86.
[15]  Nabi Saw bersabda: (اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً): Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir. (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)