Rabu, 16 September 2020

TERTOLONG KARENA MENOLONG

 

TERTOLONG KARENA MENOLONG

Oleh

Dr.H. Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم ... وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ...(رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda: …”Dan siapa yang memberi kemudahkan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan, niscaya Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat…(HR. Muslim No. 7028)

Status Hadis

            Hadis tersebut dinilai sahih oleh Imam Muslim dalam Sahih Muslim No. 7027. Selain Imam Muslim, beberapa ulama ahli hadis yang meriwayatkan hadis tersebut adalah Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud No. 4948, al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi No. 1425, Ibn Majah dalam Sunan Ibn Majah No. 225, Ahmad dalam Musnad Ahmad No. 7427,  Ibn Abi Syaibah dalam Musannaf Ibn Abi Syaibah No. 26567, al-Hakim dalam al-MustadrakNo. 8159, al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir No. 651, al-Nasai dalam Sunan al-Nasai al-Kubra No. 7287, al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman No. 11250, dan Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban No. 534. Muhammad Nasiruddin al-Albani juga mensahihkan hadis ini (al-Albani, Sahih al-Targhib Wa al-Tarhib, I/16).

 

Kandungan Hadis

            Hadis tersebut menerangkan bahwa siapa pun yang mau menolong, memberikan kemudahan kepada orang lain dalam suatu urusan, maka orang itu dijamin akan mendapatkan pertolongan dan kemudahan dari Allah swt., baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Abd al-Rauf al-Munawi dalam kitabnya Faid al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir menjelaskan bahwa maksud hadis tersebut adalah siapa yang memberi kemudahan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan dengan cara membebaskan (hutang), memberikan sedekah, atau membantu membebaskan dari berbagai kesulitannya, maka Allah akan memberikan kemudahan kepada orang itu dalam mencapai keinginan atau cita-citanya dan segala urusannya di dunia ini dengan meluaskan rizkinya, menyelamatkannya dari berbagai bencana, dan memberikan kemudahan dalam melaksanakan amal kebaikan. Selanjutnya di akhirat, ia akan dimudahkan hisabnya dan diampuni hukumannya (al-Munawi, Faid al-Qadir, VI/243).

            Pernyataan Nabi saw. bahwa Allah akan menolong dan memudahkan urusan hambaNya apabila ia mau menolong dan memudahkan orang lain, telah tebukti di banyak peristiwa. Di antaranya kisah nyata terjadi di Riyadh Saudi Arabia. Di sebuah desa Huraimla, ada seorang wanita(majikan) yang sudah divonis oleh Dokter terkena kanker darah,kondisi fisiknya sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Untuk merawat dirinya dan memenuhi semua keperluan sehari-harinya, dia mendatangkan pembantu(TKW) dari Indonesia. Pembantu ini adalah seorang wanita yang taat beragama, salihah.

Satu minggu setelah bekerja, sang majikan merasa pekerjaan si pembantu sangat bagus. Majikan selalu memperhatikan apa yang dia kerjakan. Suatu waktu majikan memperhatikan kelakukan aneh si pembantu. Seringkali, saat pembantunya ke kamar mandi, berdiam cukup lama. Dengan tutur kata yang lemah lembut, si majikan bertanya: "Apa yang sebenarnya engkau lakukan di kamar mandi?" Pembantu itu tidak menjawab, tetapi justru menangis tersedu-sedu. Si majikan menjadi iba dan kemudian menghiburnya sambil menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

Akhirnya si pembantu pun bercerita bahwa dirinya baru 20 hari melahirkan anaknya. Karena desakan ekonomi itulah ia terpaksa berangkat bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. "Saya lama di kamar mandi karena harus membuang air susu saya, Bu! Kalau tidak dibuang, dada saya terasa sesak dan penuh karena tidak disusui oleh anak saya". Air susu yang menumpuk dan tidak tersalurkan itulah yang membuatnya sakit sehingga harus diperas dan dibuang di kamar mandi.

"Subhanallah, Anda berjuang untuk anak dan keluarga Anda," kata majikan. Ternyata majikannya tidak seburuk yang diceritakan di koran-koran atau televisi. Seketika itu juga si majikan mengatakan: “Kalau begitu, kamu pulanglah dulu, uang saya berikan penuh untuk 2 tahun kontrakmu (nilainya sekitar 120-150 juta rupiah), kamu susui anakmu secara penuh selama 2 tahun dan jika kamu igin kembali bekerja, kamu bisa menghubungi telepon ini, dan sekaligus saya akan mengirim uang untuk tiket keberangkatanmu".

Sang pembantu terperanjat, lalu menangis dan berucap: "Subhanallah, apa Ibu tidak apa-apa saya tinggal?" Si majikan waktu itu hanya menggelengkan kepala dan mengatakan bahwa bayi yang harus diurusnya itu lebih berharga daripada mengurus majikan.

Setelah pembantu itu pulang, majikan malah mengalami perubahan luar bisa. Pikirannya menjadi terfokus pada kesembuhan, dan hatinya menjadi sangat senang karena dapat membantu orang yang sedang kesulitan. Hari-harinya tidak lagi memikirkan sakitnya, yang ada hanyalah rasa bahagia.

Sebulan kemudian, majikan baru kembali lagi ke rumah sakit untuk kontrol. Dokter yang menanganinya segera melakukan pemeriksaaan mendetail. Tapi apa yang terjadi? Dokter yang pernah menanganinya tidak melihat ada penyakit seperti diagnosa sebelumnya. Dia tidak melihat ada penyakit kanker darah yang diderita pasiennnya. Dokter itu terkagum-kagum, bagaimana mungkin bisa sedahsyat dan secepat itu penyakitnya bisa sembuh, apalagi kanker darah. Apa telah terjadi salah diagnosa? Akhirnya Dokter itupun bertanya, apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh pasien?

Wanita (majikan) itupun menjawab: "Saya tidak melakukan apa-apa dengan sakit saya, Dokter. Mungkin sedekah yang telah saya lakukan kepada pembantu saya tempo hari. Nyatanya setelah saya menolong meringankan bebannya, hati saya menjadi lebih bergairah untuk sembuh dan hidup”. Majikan itu kemudian menceritakan pengalamannya yang telah menolong pembantunya untuk pulang, meski kerja baru satu pekan, gaji tetap diberikan penuh untuk kontrak kerja 2 tahun. “Mungkin karena saya telah memberi kemudahan dan meringankan bebannya itu, akhirnya Allah memberikan kesembuhan dari sakit saya, Dokter”, kata majikan itu.

Dokter itupun akhirnya tersadar, bahwa sakit apapun bisa saja sembuh atas kehendak Allah swt. (islamidia.com). Nabi saw. menegaskan bahwa siapa pun yang berusaha memberi kemudahkan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan, niscaya Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat (HR. Muslim No.7028). Ini berarti bahwa salah satu cara untuk mendapatkan kemudahan (termasuk bisa  sembuh  dari suatu penyakit) adalah dengan cara menolong dan memberi kemudahan kepada orang lain yang mengalami kesulitan dan penderitaan. 

            Satu lagi kisah menarik untuk membuktikan bahwa kehidupan seseorang akan tertolong apabila suka menolong orang lain. Kisah ini tentang seorang lelaki dari India dan temannya yang sedang mendaki gunung Himalaya. Mereka berdua dalam perjalanan turun dari gunung dan berjuang melawan suhu dingin yang ekstrem. Di tengah perjalanan, mereka menjumpai seorang pendaki lain yang kakinya terjepit di antara bebatuan. Sang lelaki itu memutuskan untuk menolong orang yang terjepit itu, sementara temannya justru memilih untuk terus berjalan menyelamatkan dirinya sendiri. Maka tubuh orang yang tidak berdaya itu dipikul di atas punggung sang lelaki dan mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan tertatih-tatih. Sesekali sang lelaki merasa kelelahan, ia istirahat sejenak hingga tenaganya pulih kembali.

Meski penuh perjuangan, mereka berdua akhirnya tiba di kaki gunung dengan selamat. Namun anehnya, justru temannya yang sudah berjalan jauh di depannya ternyata belum sampai. Seharusnya ia sudah tiba lebih dulu. Beberapa jam kemudian, tim SAR memberikan kabar bahwa temannya itu mati membeku di tengah perjalanan. Tubuhnya tak sanggup melawan cuaca dingin yang menusuk tulang itu.

Tersadarlah si lelaki itu, justru karena beban berat yang ia pikul tadi yang menyebabkan tubuhnya berkeringat dan menjaganya tidak membeku. Ditambah lagi punggungnya yang bersentuhan badan dengan orang yang ia tolong, dapat menjaga panas tubuhnya (aksara.co). Ini juga membuktikan kebenaran sabda Nabi saw. bahwa barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang lain, maka Allah akan memberikan kemudahan kepada dirinya di dunia dan akhiat nanti, …(HR. Muslim No. 7028).

Dari dua kisah (peristiwa) di atas dapat dijadikan pelajaran yang sangat berharga bahwa menolong orang lain itu sebenarnya menolong dirinya sendiri. Karena itu, jika kita ingin mendapatkan kemudahan dalam hidup ini, maka terlebih dulu harus memberikan kemudahan atau pertolongan kepada orang lain yang mengalami kesulitan. Misalnya, saat kita menginginkan suatu kesuksesan, atau terbebas dari suatu penderitaan, maka carilah obyek untuk bisa memberikan pertolongan kepada orang lain yang mengalami kesulitan. Cari, di mana ada anak yatim yang memerlukan bantuan. Cari, di mana ada anak miskin yang tidak bisa membayar SPP. Cari, di mana ada orang tua yang butuh pertolongan dibawa ke RS, dan lain-lain. Nabi mengingatkan: “Wallahu fi ‘auni al‘abdi ma kana al‘abdu fi ‘auni akhihi”, Allah akan menolong hambNya apabila hambanya suka menolong saudaranya (HR. Muslim No. 7028).

 




 

 

 

SETIAP KEBAIKAN ITU SEDEKAH

 

SETIAP KEBAIKAN ITU SEDEKAH

Oleh

Dr.H. Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I

 

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ

Dari Jabir bin Abdillah ra., Nabi Saw. bersabda: “Setiap kebaikan (perbuatan baik) itu sedekah” (HR. al-Bukhari No. 6021 dan Muslim No. 2375).

Status Hadis

            Hadis tersebut dinilai sahih oleh al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari No. 6021, dan oleh Muslim dalam Sahih Muslim No. 2375. Selain al-Bukhari dan Muslim, beberapa ulama ahli hadis yang meriwayatkannya adalah Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud No. 4949, Al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi No. 1970, al-Nasa-i dalam Sunan al-Nasa-i al-Kubra No. 10701, Ahmad dalam Musnad AhmadNo. 23379, Ibn Abi Syaibah dalam Musannaf Ibn Abi Syaibah No. 25426, al-Hakim dalam al-Mustadrak No. 2311, al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir No. 1115, Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban No. 3378, Ibn Khuzaimah dalam Sahih Ibn Khuzaimah No. 2354, al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra No. 11801, al-Daruqutni dalam Sunan al-Daruqutni No. 2895, dan al-Thahawi dalam Syarh Musykil al-Atsar No. 5478. Muhammad Nashiruddin Al-Albani juga menilai hadis tersebut sahih (al-Albani, Tamam al-Minnah, I/392).

 

Kandungan Hadis

            Hadis tersebut menerangkan bahwa setiap kebaikan (perbuatan baik) itu sedekah. Al-Suyuti menjelaskan bahwa maksud kalimat “setiap kebaikan itu sedekah” adalah semua amal perbuatan yang baik mendapatkan pahala seperti pahala orang yang bersedekah dengan hartanya (al-Suyuti, al-Dibaj ‘Ala Muslim, III/77).

            Menurut bahasa, yang dimaksud dengan “makruf” menurut al-Raghib adalah setiap perbuatan yang dikenal baik oleh syarak dan akal sekaligus. Ibn Abi Hamzah mengemukakan bahwa “makruf” adalah semua perbuatan baik berdasarkan dalil-dalil syarak, baik yang sesuai dengan adat atau tidak. Sedangkan yang dimaksud dengan “sadaqah” (sedekah) adalah pahala (al-shadaqatu al-tsawab). Maksudnya, setiap perbuatan baik akan mendapatkan pahala seperti sedekah dengan harta. Dengan demikian, istilah sedekah sebenarnya tidak hanya dibatasi bagi orang-orang kaya yang dapat mengeluarkan hartanya di jalan Allah, tetapi semua perbuatan baik adalah sedekah, termasuk berakhlak mulia (Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, XVII/165 dan al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi, VI/90).

            Penegasan bahwa setiap kebaikan itu sedekah pernah disampakian oleh Rasulullah Saw kepada beberapa sahabat yang merasa gelisah dan gundah gulana, karena merasa tidak bisa optimal dalam beribadah kepada Allah swt. Mereka mengira bahwa para Sahabat yang memiliki kelebihan harta, kemudian menyedekahkannya di jalan Allah, tentulah akan mendapatkan derajat yang lebih mulia di sisi Allah swt. Mereka melaksanakan salat dan puasa, namun mereka dengan hartanya bisa bersedekah, sedangkan kami tidak bisa bersedekah, kata para Sahabat (yang miskin) ini. Akhirnya Rasulullah saw. sebagai seorang pemimpin dan guru sejati memberikan motivasi serta dorongan agar mereka tidak putus asa, dan sekaligus memberikan jalan keluar bagi para Sahabat ini. Jalan keluarnya adalah bahwa mereka bisa bersedekah dengan perbuatan baik apa saja, bahkan termasuk dalam hubungan intim suami istri.

Kisah tersebut tercatat dalam hadis sahih riwayat Muslim, dari Abu Dzar ra. bahwasanya beberapa orang dari kalangan Sahabat berkata (mengadu) kepada Nabi saw.: “Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya telah pergi dengan membawa banyak pahala. Mereka salat seperti kami salat, mereka puasa seperti kami puasa, dan mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka”. Beliau kemudian bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih (bacaan subhanallah) adalah sedekah, setiap takbir (bacaan Allahu Akbar) adalah sedekah, setiap tahmid (bacaan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (bacaan la ilaha illallah) adalah sedekah, menyuruh kepada yang makruf adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, dan salah seorang dari kalian berhubungan intim (jimak) dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya : “Wahai Rasulullah! Apakah jika salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya (bersetubuh dengan istrinya) maka ia juga mendapatkan pahala?” Beliau menjawab: “Apa pendapat kalian seandainya ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, maka ia memperoleh pahala”(HR. Muslim No. 2376).

Juga dari Abu Dzar, dalam versi lain riwayat al-Tirmidzi ada tambahan contoh perbuatan makruf, Nabi saw bersabda: Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah, engkau berbuat makruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan adalah sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah.” (HR. al-Tirmidzi No. 1956). Al-Albani menilai hadis ini sahih (al-Albani: Shahih al-Targhib Wa al-Tarhib, III/14).

Dari keterangan hadis-hadis tersebut, secara garis besar dapat difahami bahwa macam-macam kebaikan (makruf) yang bernilai sedekah itu dapat dikategorikan ke dalam dua bagian. Pertama, kebaikan yang bersifat vertikal individual, untuk diri sendiri. Kedua, kebaikan yang bersifat sosial horizontal, untuk orang lain.

Perbuatan baik (makruf) yang bersifat vertikal, untuk diri sendiri, seperti berdzikir, membaca tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istighfar, dan bentuk taqarrub  lainnya seperti shalat dan membaca Alquran adalah termasuk sedekah yang bisa mendatangkan pahala bagi diri sendiri. Selain mendatangkan pahala, amal-amal kebaikan tersebut dapat membangun diri menjadi pribadi yang semakin salih dan semakin dekat kepada Allah.    

            Aisyah ra. meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya setiap manusia, dari anak cucu Adam terlahir dengan 360 (tiga ratus enam puluh) persendian. Maka barang siapa bertakbir, bertahmid, bertasbih, beristighfar, menyingkirkan batu, duri atau tulang dari jalan, melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, dengan hitungan sejumlah tiga ratus enam puluh persendian, sungguh pada hari itu ia akan berjalan dengan telah menjauhkan dirinya dari adzab api neraka(HR. Muslim No. 2377).

Dari Abu Dzar, Nabi saw. bersabda: “Di setiap pagi, ada kewajiban sedekah atas setiap persendian dari salah seorang kalian. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf nahi mungkar adalah sedekah. Dan dapat memenuhi semua itu (sedekah untuk 360 persendian) dengan salat dua rakaat yang dilakukan pada waktu dhuha”(HR. Muslim No. 1704).

Perbuatan baik (makruf) yang bersifat social horizontal, kepada orang lain, seperti bersikap ramah kepada orang lain, murah senyum, berbicara sopan, membuang duri atau bebatuan yang mengganggu jalan, menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, menuntun orang yang berpenglihatan kabur, menuangkan air dari embernya ke ember saudaranya, semua itu adalah bernilai sedekah, berpahala.

            Membantu orang lain agar mudah urusannya, menggembirakan orang lain agar terhibur hatinya, membantu memecahkan problem orang lain agar mendapatkan solusinya, semuanya itu adalah perbuatan baik dan bernilai sedekah. Bahkan berbuat baik kepada hewan, seperti memberi makan kucing dan bersikap baik kepada hewan-hewan lainnya, semuanya itu bisa bernilai sedekah.

            Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata: “Anjing ini kehausan seperti diriku”. Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah memujinya, memberikan pahala kepadanya dan mengampuninya”. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari (berbuat baik) kepada hewan?”. Beliau menjawab: Fi kulli kabidin rathbatin ajrun, “(Bersikap baik) pada setiap makhluq bernyawa akan diberi pahala (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 5996).

Sebagai akhir tulisan ini, mari kita renungkan kata mutiara berikut ini: “Saat kita menanam padi, rumput ikut tumbuh, tetapi saat kita menanam rumput tidak pernah tumbuh padi. Dalam melakukan kebaikan, kadang-kadang hal yang buruk turut menyertai, tetapi saat melakukan keburukan, tidak ada kebaikan bersamanya. Saat kita menarik energi positif, maka energi negatif juga akan ikut tertarik, tetapi ketika kita menarik energi negatif maka tidak pernah tertarik energi positif. Sungguh pun demikian, jangan pernah berhenti berbuat baik dalam kehidupan kita, seberapa pun kebaikan itu, selagi masih bisa”. Ingat sabda Nabi saw. di atas: “kullu makrufin sadaqatun”, setiap kebaikan itu sedekah!

 Untuk menyaksikan versi videonya, silakan klik link berikut ini:



 

Jumat, 21 Agustus 2020

JANGAN SIA-SIAKAN KESEMPATAN

 

JANGAN SIA-SIAKAN KESEMPATAN

 

Oleh:


Dr.H. Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I


نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu di dalamnya, yaitu sehat dan sempat (HR. al-Bukhari No. 6412 dari Ibn Abbas ra.)

Status Hadis

            Hadis tersebut statusnya sahih. Selain Imam al-Bukhari yang meriwayatkannya dalam kitab Sahih al-Bukhari, I/3218 hadis No. 6412, beberapa ulama ahli hadis lain yang juga meriwayatkannya adalah Imam al-Tirmidzi dalam kitab al-Sunan,IV/126 hadis No. 2304; Imam Ahmad dalam kitab al-Musnad, IV/177 hadis No. 2340; Imam Ibn Majah dalam kitab al-Sunan, II/1396 hadis No. 4170; Imam Ibn Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf, VII/82 hadis No. 34357; Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, IV/341 hadis No. 7845; Imam al-Thabrani dalam kitab al-Ausath, VI/193 hadis No. 6163; Imam al-Bayhaqi dalam kitab al-Sunan, III/370 hadis No. 6760; dan Imam al-Darimi dalam kitab al-Sunan, II/385 hadis No. 2707;  Muhammad Nashiruddin al-Albani, dalam kitab Misykat al-Mashabih tahqiq al-Albani, V/3 hadis No. 5155 menilai bahwa hadis tersebut sahih.

Kandungan Hadis

            Hadis tersebut menjelaskan tentang dua nikmat yang banyak dilupakan atau dilalaikan oleh manusia, yaitu nikmat sehat dan nikmat sempat. Kedua nikmat ini sangat penting dan sangat menentukan kehidupan seseorang. Sabda Nabi saw: “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” ini mengisyaratkan bahwa orang yang mendapatkan taufik (bimbingan) untuk itu, tidak banyak.

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata:

 

قَدْ يَكُون الْإِنْسَان صَحِيحًا وَلَا يَكُون مُتَفَرِّغًا لِشُغْلِهِ بِالْمَعَاشِ، وَقَدْ يَكُون مُسْتَغْنِيًا وَلَا يَكُون صَحِيحًا، فَإِذَا اِجْتَمَعَا فَغَلَبَ عَلَيْهِ الْكَسَل عَنْ الطَّاعَة فَهُوَ الْمَغْبُون، وَتَمَام ذَلِكَ أَنَّ الدُّنْيَا مَزْرَعَة الْآخِرَة، وَفِيهَا التِّجَارَة الَّتِي يَظْهَر رِبْحهَا فِي الْآخِرَة  

“Kadang-kadang manusia itu sehat, tetapi tidak punya waktu longgar, karena kesibukannya dengan penghidupan. Kadang-kadang manusia itu cukup (waktu dan kebutuhannya), tetapi tidak sehat. Jika keduanya terkumpul (dalam kondisi sehat dan sempat), lalu dikalahkan oleh kemalasannya melakukan kataatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Kesempurnaan akan diperoleh bila ia bisa menjadikan dunia ini sebagai ladang akhirat. Di dunia inilah tempat ia berdagang yang keuntungannya akan nampak di akhirat”.

Lebih lanjut Ibnul Jauzi berkata: “Barangsiapa menggunakan waktu luangnya dan kesehatannya untuk ketaatan kepada Allah, maka dia adalah orang yang mendapatkan kejayaan dan kebahagiaan. Dan barangsiapa menggunakan keduanya untuk maksiat kepada Allah, maka dia adalah orang yang tertipu”(al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala, IX/553; Ibn Hajar, Fath al-Bari, XI/230).

Nikmat Sehat

Banyak manusia yang sehat, anggota tubuhnya juga sempurna, namun mereka tertipu. Mereka lalai, tidak pandai mensyukuri nikmat sehat itu sebagaimana mestinya. Seharusnya nikmat sehat itu digunakan untuk melakukan pekerjaan dengan baik dan ketaatan dalam beribadah. Tetapi kebanyakan mereka malah bermalas-malasan bahkan melakukan perbuatan maksiat. Sementara di luar sana ada sebagian orang yang ingin bekerja dan beribadah maksimal, tetapi tidak sanggup melakukannya dikarenakan sakit atau menderita cacat. Orang seperti ini, biasanya baru sadar kalau sudah tidak lagi sehat dan sebagian tubuhnya tidak lagi berfungsi dengan baik.

            Dikisahkan bahwa ada seseorang yang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan kesedihannya di hadapan orang arif (bijak). Orang arif itu bertanya: “Apakah engkau senang menjadi buta dengan mendapatkan uang 10 ribu dirham?”. Ia menjawab: “Tidak”. Orang arif itu bertanya lagi: “Apakah engkau senang menjadi bisu dengan mendapatkan uang 10 ribu dirham?”. Ia menjawab: “Tidak”. Orang arif itu bertanya lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang yang tidak punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan uang 20 ribu dirham?”. Ia menjawab: “Tidak”. Orang arif itu bertanya lagi: “Apakah engkau senang menjadi gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”. Ia menjawab: “Tidak”. Orang arif itu berkata: “Nah renungkan baik-baik, apakah engkau tidak malu mengeluh di hadapan Tuanmu (Allah swt), sedangkan Dia memiliki harta setara dengan 50 ribu dinar padamu” (Ibn Qudamah al-Maqdisi, Mukhtashar Minhaj al-Qashidin,IV/47).

Kisah ini mengingatkan setiap orang agar pandai mensyukuri nikmat, terutama nikmat sehat yang memungkinkan ia bisa memanfaatkannya untuk melakukan apa saja yang ia bisa.

Nikmat Senggang

Waktu adalah sesuatu yang terus berjalan ke depan dan tak akan kembali lagi. Oleh karena itu, banyak sekali manusia yang menyesal karena tidak pandai memanfaatkan waktu senggangnya. Ia tertipu oleh hawa nafsunya, ia melalaikannya sehingga waktu berlalu begitu saja, tanpa ada manfaat dan faidahnya. Hidupnya dan waktu senggangnya hanya dihabiskan untuk perbuatan yang sia-sia. 

Waktu ibarat pedang bermata dua, jika digunakan untuk kebaikan, bekerja keras, menggapai mimpi indah, maka kebaikan dan keindahan pula yang akan diraihnya. Sebaliknya, jika digunakan untuk keburukan, bermalas-malasan, dan berbagai perilaku yang tidak bermanfaat, maka keburukan juga yang akan ia dapatkan.

            Ada kisah menarik tentang seseorang yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan kebaikan yang sebenarnya akan menguntungkan bagi dirinya, tetapi peluang itu tidak dimanfaatkannya.

             Orang itu dipanggil Pak Misrun. Ia bekerja sebagai seorang mandor pada sebuah perusahaan pengembang perumahan. Selama ini perusahaan yang mempekerjakannya selalu puas atas kinerjanya. Saat itu, usianya sudah menginjak kepala enam. Fisiknya sudah terlihat rapuh. Karena itu ia mulai mempertimbangkan untuk berhenti, pensiun.

Suatu saat, Pak Misrun mengajukan pengunduran dirinya kepada pemimpin perusahaan, tetapi ditolaknya secara halus, dengan alasan karena tenaga Pak Misrun masih sangat dibutuhkan. Selain dedikasinya yang tinggi, juga karena ketulusan dan amanahnya. Sampai tibalah di hari itu, Pak Misrun benar-benar ingin berpamitan untuk berhenti kerja. Permohonan yang sekian kali ini sepertinya ada tanda-tanda akan dikabulkan. Pimpinan berkata: “Boleh saja, jika Pak Misrun ingin mengundurkan diri, tetapi mohon kerjakan dulu satu proyek rumah untuk yang terakhir kali”.

Pak Misrun sebenarnya sudah merasa lelah, tidak bisa lagi menikmati segala macam pekerjaannya. Karena itu, meskipun tawaran pimpinan perusahaan tersebut diterima, Pak Misrun melakukannya tidak dengan semangat seperti awal-awal dia bekerja. Kali ini ia mengerjakannya asal-asalan, setengah hati, dan cenderung yang penting asal jadi, asal selesai. Pilihan bahan-bahan bangunan dan furniture, perkakas rumah tangga seperti meja, kursi, almari, kulkas, dan televisi, pun tidak dipilihkan yang bagus seperti biasanya.

Singkat cerita, selesai sudah proyek rumah yang dikerjakan oleh Pak Misrun itu. Karena sudah selesai, maka Pak Misrun berniat untuk menghadap sang pimpinan perusahaan. Beberapa kunci rumah dan kamar pun di genggamnya. Namun, ketika hendak masuk ke dalam ruangan si bos, sekretaris kantor memberi kabar bahwa si bos sedang menunaikan ibadah umrah dan menitipkan dua amplop besar untuk Pak Misrun. Penasaran dengan isi dari dua amplop tersebut, Pak Misrun membukanya dengan seksama.

Amplop pertama berisi ucapan terima kasih perusahaan kepada Pak Misrun atas pengabdiannya selama ini. Sedangkan amplop kedua berisi Surat Sertifikat Tanah. Sedikit terkejut, ketika isi surat kepemilikan tanah tersebut ternyata mencantumkan nama dirinya (Misrun) sebagai pemilik dari rumah yang baru saja diselesaikannya.

Terselip secarik kertas kecil, tulisan tangan sang pimpinan. “Dengan telah dibukanya kedua amplop ini saya mengucapkan untuk terakhir kalinya ucapan terima kasih atas pengabdian yang tulus dari Pak Misrun untuk perusahaan ini. Sebagai tanda mata kami, mohon berkenan menerima satu unit rumah dengan seluruh isi yang telah Pak Misrun siapkan”.

 Kontan, berbagai gejolak rasa menyergap hatinya. Di antara rupa-rupa rasa itu adalah penyesalan yang tak terhingga. Kenapa, untuk terakhir dia bekerja, dia tidak maksimal mengerjakan proyek yang sebenarnya direncanakan untuk sebuah hadiah atas pengabdiannya selama ini (http//republika.co.id). Kisah ini patut menjadi renungan kita. Allah swt. berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Jika engkau melakukan suatu kebajikan, maka kebajikan itu sebenarnya untuk dirimu sendiri; dan jika engkau melakukan keburukan, keburukan itu juga untuk dirimu sendiri (QS. Al-Isra, 7).

Allah mengingatkan: “Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu mengatakan; “Sungguh jika kamu bersyukur, pasti Aku akan tambah (nikmat) kepadamu, tapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

            Salah satu bentuk syukur kepada Allah atas nikmat sehat dan senggang adalah tidak menyia-nyiakan kesempatan.


Materi tersebut juga bisa disaksikan melalui youtube berikut ini:




Sabtu, 01 Agustus 2020

MENSYUKURI KEMERDEKAAN

MENSYUKURI KEMERDEKAAN

Oleh

Dr.H. Achmad Zuhdi Dh, Fil I


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah”(HR. al-Tirmidzi No.1954).

Status Hadis

            Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi, III/403 No. 1954). Al-Tirmidzi menilai hadis tersebut sahih. Selain al-Tirmidzi,  para ahli hadis yang meriwayatkan hadis tersebut antara lain Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad, XII/472 No. 7504; Imam al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, I/85 No. 218; Imam Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud, IV/403 No. 4813; Imam al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman, VI/516 No. 9119; Imam al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, I/219 No. 520; dan Imam Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban, VIII/198 No. 3407. Al-Albani dalam Sahih al-Jami’ al-Shaghir, II/1114 No. 11487 juga menilai hadis tersebut sahih.

Kandungan Hadis

            Hadis tersebut menerangkan tentang hakikat bersyukur. Orang yang bersyukur atau berterima kasih kepada sesama yang telah berjasa, hakikatnya telah bersyukur kepada Allah. Karena berterima kasih kepada manusia yang telah berjasa merupakan perintah Allah. “Wala tansawul fadla bainakum (ولا تنسواالفضل بينكم)”, janganlah kamu melupakan keutamaan atau kebaikan di antara kalian (QS. Al-Baqarah, 237). 

            Makna syukur itu sendiri adalah “isti’mal al-ni’am fima khuliqat lahu”, mempergunakan segala nikmat untuk apa nikmat-nikmat itu dibuat/diberikan (Sayid Thanthawi, al-Tafsir al-Wasith, XIV/179). Mensyukuri nikmat baru dianggap sempurna apabila memenuhi tiga unsur. Pertama, mengakui dan meyakini bahwasanya nikmat itu berasal dari Allah. Kedua, mempergunakan nikmat sesuai dengan maksud Allah membuat atau memberikan nikmat itu kepada manusia. Ketiga, memuji Allah dengan ucapan alhamdulillah pada lisannya (Abd al-Halim Mahmud, Fatawa Abd al-Halim Mahmud, I/414). Ibn al-Qayyim, dengan gambaran yang hampir sama mengemukakan makna syukur sebagai berikut:

وَهُوَ ظُهُوْرُ أَثَرِ نِعْمَةِ اللهِ عَلَى لِسَانِ عَبْدِهِ: ثَنَاءً وَاعْتِرَافًا وَعَلَى قَلْبِهِ: شُهُوْدًا وَمَحَبَّةً وَعَلَى جَوَارِحِهِ: انْقِيَادًا وَطَاعَةً

“Syukur adalah menampakkan adanya nikmat Allah yang telah diterimanya. Secara lisan berupa pujian (ucapan alhamdulillah) dan pengakuan bahwa nikmat itu dari Allah, melalui hati berupa kesaksian dan kecintaan kepada Allah, dan melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah” (Ibn al-Qayyim, Madarij al-Salikin, II/244).

            Ibn Ajibah (w. 1224 H/1809 M) menjelaskan bahwa cara manusia menyikapi nikmat itu ada tiga tingkatan, yaitu cara awam, khawas, dan khawas al-khawas (Ibn Ajibah, Iqadhul Humam  Syarh Matan al-Hikam, I/169). 

            Pertama (cara kaum awam), mereka bergembira dengan kenikmatan yang diterima, karena kenikmatan itu dianggap dapat memberikan kelezatan, kemudahan, dan gengsi serta martabat di lingkungan sosialnya. Selain itu, mereka beranggapan bahwa kenikmatan berupa kesuksesan dan hal-hal yang dapat membahagiakan itu adalah berkat kepandaian dan keahliannya semata. Mereka tidak menyadari bahwa kenikmatan yang telah diterimanya itu adalah karena anugerah Allah swt. Model manusia seperti ini termasuk golongan orang-orang yang lalai dan tersesat serta terancam siksaan dari Allah, sebagaimana dalam berfirman-Nya:

فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوٓا۟ أَخَذْنَٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” (QS. Al-An’am, 44).

            Kedua (cara kaum khawas), mereka bergembira dengan kenikmatan yang diterima, karena kenikmatan itu bisa memberikan kelezatan, kemudahan, dan gengsi serta martabat di lingkungan sosialnya. Bedanya dengan yang pertama, model manusia yang kedua ini masih meyakini bahwa kesuksesan dalam meraih kenikmatan itu tidak semata-mata karena kepandaian dan kelihaiannya, tetapi juga dikarenakan adanya campur tangan atau anugerah dari Allah swt. Model manusia seperti ini termasuk dalam kategori orang-orang yang terpuji dan selamat dari kehinaan, sebagaimana firman Allah swt.:

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

"Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan" (QS. Yunus, 58).

            Ketiga (cara kaum khawas al-khawas), mereka bergembira bukan karena kenikmatan itu, dan juga bukan karena Allah telah memberikan kenikmatan itu, tetapi gembira karena bisa mengenal lebih dekat dengan sang pemberi nikmat. Mereka tidak tertarik dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepadanya, mereka lebih tertarik dan gembira karena bisa dekat dengan Allah, sang Pemberi nikmat. Mereka ini tergolong manusia yang selamat, bermartabat tinggi dan sangat terpuji. Kemampuannya bisa makrifat (mengenal) pada Pemberi nikmat bukan karena nikmatnya itu, dapat menyelamatkannya dari segala macam tipuan nikmat. Mereka ini malah lenyap dalam kenikmatan mencintai Sang Pemberi. Inilah wujud syukur yang paling sempurna. Syukur yang demikian ini hanya bisa diraih oleh orang yang sangat istimewa (khash al-khawash), yaitu hamba-hamba Allah yang karena kedekatan dan cintanya kepada-Nya, mereka tidak lagi tertarik kepada yang selain Allah. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa suatu saat Nabi shalat malam hingga telapak kakinya bengkak merekah, lalu ‘Aisyah bertanya: “Kenapa engkau melakukan semua ini, padahal Allah swt. telah memberikan ampunan bagimu atas dosa-dosa-mu yang telah lalu dan yang akan datang?” Lalu beliau menjawab: “afala akunu ‘abdan syakura” (أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا), apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur (HR. al-Bukhari No. 1130 dan Muslim No. 7304).

            Banyak sekali nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita, bangsa Indonesia. Di antara nikmat terbesarnya adalah nikmat kemerdekaan yang setiap 17 Agustus selalu diperingati sebagai hari kemerdekaan Repubik Indonesia. Nikmat kemerdekaan ini sangat berharga bagi bangsa Indonesia, karena itu harus disyukuri. Cara mensyukurinya, pertama adalah dengan meyakini dan menyadari bahwa kemerdekaan itu dapat dicapai karena campur tangan Allah swt. Dalam alinea ketiga Pembukaan UUD 1945 disebutkan: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”  Ungkapan ini menunjukkan bahwa pendiri bangsa ini adalah manusia-manusia yang relijius dan bertauhid. Mereka sadar benar bahwa pencapaian kemerdekaan bukanlah karena usahanya semata, tetapi dibangun dan merdeka atas berkat Rahmat Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pernyataan “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa…” tersebut sangat relevan dengan pengertian kemerdekaan yang dikemukakan oleh Abdullah Qadiri yang mengatakan: “la hurriyyata illa bitauhidillah”, tidak ada kemerdekaan hakiki kecuali dengan bertauhid kepada Allah (al-Sibaq Ila al-‘Uqul, I/104). Maksudnya,  manusia tidak boleh menyerahkan diri dan tunduk kepada siapa pun selain Allah. Sebab, penyerahan diri dan ketundukan ini mengandung makna perendahan. Penghambaan manusia kepada sesama manusia, apalagi kepada makhluk lain yang lebih rendah, dapat merendahkan dan menjatuhkan harga diri manusia, bahkan melecehkan harkat dan martabat kemanusiaan. Dalam pespektif ini, hanya orang yang bertauhid (mengesakan Allah) yang dapat disebut sebagai orang yang benar-benar bebas dan merdeka. Dengan bertauhid pula, ia akan mampu membebaskan diri dari berbagai belenggu yang dapat menjauhkan dirinya dari kebenaran dan kepatuhan kepada Allah swt.

            Selain itu, cara kedua dalam mensyukuri kemerdekaan adalah dengan mengisi alam kemerdekaan ini melalui berbagai hal yang dapat membawa kemajuan dan kemakmuran bangsa Indonesia. Jika kita bisa sepakat bahwa kemerdekaan itu merupakan “jembatan emas” menuju kemakmuran, maka setiap kegiatan dan aktifitas yang diarahkan untuk mencapai kemakmuran bangsa, pada hakikatnya adalah merupakan bentuk syukur terhadap kemerdekaan. Berangkat dari sini, sebagai bagian dari anak bangsa, kita berkewajiban untuk menjaga dan membawa kemerdekaan ini dengan mengisi kegiatan apa saja sesuai dengan bidang dan keahlian masing-masing demi tercapainya kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan. Bukan sekedar berteriak dan mengaku “aku NKRI”, “aku Pancasila”, “aku Indonesia”, dan semacamnya.

            Sedangkan cara ketiga dalam mensyukuri nikmat kemerdekaan adalah dengan banyak bertahmid, memuji Allah dengan ucapan alhamdulillah, dan banyak bersujud, termasuk sujud syukur, menunjukkan kataatan dan kepatuhan kepada Allah.

            Nah, kini, sudahkah kita mensyukuri kemerdekaan? Buatlah para pahlawan kemerdekaan dan pendiri bangsa ini tersenyum melihatmu, karena besarnya dedikasimu. Ingat kata berhikmah dari John F. Kennedy: “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country (http://www.jfklibrary.org/), jangan tanyakan apa yang dapat diberikan oleh negara untukmu,  tetapi tanyakan apa yang bisa kamu lakukan untuk negerimu.